Diam Tak Selalu Emas, Silent Treatment pada Anak Bisa Jadi Bumerang

Silent treatment pada anak ternyata bisa berdampak pada hubungan dan kondisi emosionalnya.

Diterbitkan 18 Agustus 2026, 15:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Orang tua terkadang memilih diam saat marah atau kecewa kepada anak. Alih-alih memarahi atau memberikan hukuman secara langsung, orang tua menghindari percakapan hingga anak menyadari kesalahannya sendiri. Pola ini dikenal sebagai silent treatment.

Silent treatment merupakan tindakan menghindari komunikasi atau interaksi dengan seseorang, seperti menolak berbicara, mengabaikan pertanyaan, menghindari dialog, hingga bersikap dingin dan tidak menunjukkan empati.

Bagi sebagian orang tua, cara ini digunakan sebagai bentuk hukuman agar anak menyadari kesalahannya. Namun, bagi anak yang masih berada dalam tahap perkembangan, sikap tersebut justru dapat menimbulkan kebingungan dan tekanan, mengutip EuroKids, Selasa (18/8/2026).

Anak membutuhkan orang tua sebagai tempat mendapatkan dukungan ketika menghadapi situasi sulit. Ketika komunikasi tiba-tiba terputus, anak dapat merasa sendirian, ditolak, atau tidak diinginkan.

Dampak Silent Treatment pada Anak

Berikut beberapa dampak silent treatment yang dapat dirasakan anak:

1. Memengaruhi Hubungan Orang Tua dan Anak

Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar dan membutuhkan orang tua untuk menjelaskan berbagai situasi yang mereka alami.

Jika silent treatment dilakukan berulang kali, hubungan orang tua dan anak dapat menjadi semakin renggang. Anak mungkin merasa tidak nyaman dan perlahan berhenti mengandalkan orang tua ketika menghadapi masalah.

2. Membuat Anak Merasa Diabaikan

Alih-alih memahami kesalahan yang dilakukan, anak justru dapat merasa bingung, ditolak, dan diabaikan.

Perasaan terus-menerus ditolak juga dapat memengaruhi kepercayaan diri anak. Mereka bisa menganggap dirinya tidak disayangi atau tidak cukup baik bagi orang tua.

3. Mengganggu Kondisi Fisik dan Emosional

Silent treatment juga dapat membuat anak kesulitan mengungkapkan perasaan karena muncul rasa takut, bersalah, atau tertekan.

Jika berlangsung terus-menerus, anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tegang dan tertutup serta takut melakukan kesalahan.

Tekanan emosional yang berkepanjangan juga dapat disertai keluhan fisik, seperti sakit kepala, sakit perut, kecemasan, dan gejala lainnya.

Apakah Silent Treatment Termasuk Kekerasan Emosional?

Kekerasan dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Sebagian terlihat jelas secara fisik, sementara bentuk lainnya tidak meninggalkan luka yang kasatmata.

Silent treatment dapat menjadi bentuk kekerasan emosional ketika digunakan untuk menghukum, mengontrol, atau memanipulasi seseorang melalui pengabaian dan penolakan komunikasi.

Pada anak, perilaku ini dapat membuat mereka merasa tidak didukung dan tidak disayangi. Dalam jangka panjang, anak juga dapat belajar bahwa komunikasi merupakan sesuatu yang harus dihindari ketika terjadi konflik.

Utamakan Komunikasi

Daripada mengabaikan anak ketika sedang marah, orang tua sebaiknya menjelaskan kesalahan yang dilakukan sekaligus alasan di balik rasa kecewa tersebut. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk memahami perilakunya dan belajar memperbaikinya.

Orang tua tetap dapat memberikan konsekuensi yang jelas, tetapi sebaiknya disertai penjelasan. Misalnya, anak diminta mengerjakan tugas rumah tertentu sebagai konsekuensi atas perilakunya, sekaligus diberi pemahaman mengenai alasan konsekuensi tersebut diberikan.

Cara orang tua menghadapi konflik juga menjadi contoh bagi anak. Ketika anak melihat orang tua menyelesaikan masalah melalui komunikasi, mereka belajar bahwa konflik tidak harus dihindari, melainkan dapat dibicarakan dan diselesaikan bersama.