PCOS Jadi PMOS, Nama Lama Tak Gambarkan Gangguan Secara Utuh

Per Mei 2026, para dokter tak lagi menyebut kondisi PCOS melainkan PMOS.

Diterbitkan 02 Oktober 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan nama dari polycystic ovary syndrome (PCOS) menjadi polyendocrine metabolic and ovarian syndrome (PMOS) diumumkan pada Mei 2026 melalui publikasi di jurnal medis The Lancet. Perubahan tersebut merupakan hasil proses panjang yang melibatkan kelompok pakar dari berbagai negara.

Kenapa istilah PCOS perlu diganti?

Dr. dr. Gita Pratama, Sp. O.G, Subsp. F.E.R., M.Rep.Sc., menjelaskan, perubahan nama tersebut dilakukan karena istilah PCOS dinilai tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi penyakit. Setidaknya ada dua alasan utama yang melatarbelakanginya, yakni istilah lama dianggap dapat menyesatkan dan belum menggambarkan luasnya dampak penyakit.

“Alasan utama kenapa nama dirubah agar tidak menyesatkan. Nama pertama tidak lengkap jadi diubah agar lebih lengkap lagi,” ujar Gita dalam sesi wawancara daring bersama RS Pondok Indah - Pondok Indah Jakarta.

Pada istilah PCOS terdapat kata polycystic atau polikistik. Istilah tersebut dapat membuat orang mengira bahwa PCOS merupakan kondisi ketika indung telur dipenuhi banyak kista. Padahal, menurut Gita, gambaran yang disebut polikistik pada PCOS bukanlah kista seperti yang ditemukan pada kondisi tertentu, misalnya kista endometriosis atau kista cokelat.

“Kenapa menyesatkan atau tidak akurat? Karena istilah polikistik, kita berpikir banyak kistik, banyak kista. Padahal sebenarnya PMOS ini tidak ada kista,” jelasnya.

Gita menjelaskan, gambaran ovarium yang tampak polikistik pada pasien sebenarnya berkaitan dengan banyaknya folikel atau bakal sel telur yang jumlahnya lebih banyak dari normal. Folikel-folikel tersebut mengalami gangguan dalam proses pertumbuhan dan ovulasi sehingga memberikan gambaran yang kemudian disebut polikistik.

“Yang ditemukan pada pasien PCOS itu telurnya yang jumlahnya banyak, lebih banyak dari normal. Karena telur ini sulit untuk tumbuh atau berevolusi, yang membentuk sebagai gambaran polikistik,” katanya.

 

PCOS Tak Hanya Berkaitan dengan Ovarium

Alasan lainnya adalah istilah PCOS dinilai terlalu berfokus pada ovarium, padahal dampak kondisi ini lebih luas. Menurut Gita, gangguan yang terjadi tidak hanya berkaitan dengan sistem reproduksi dan hormon, tetapi juga dapat melibatkan metabolisme serta aspek kesehatan lainnya.

“Karena sebenarnya polikistik itu sindrom di ovarium saja. Padahal penyakit ini implikasinya sangat luas, enggak cuma ke gangguan di indung telur atau reproduksi atau hormon, tapi juga gangguan pada sistem yang lain,” tutur Gita.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut juga berkaitan dengan gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin, gangguan lemak darah, serta peningkatan risiko diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Sementara dari sisi reproduksi, kondisi ini tetap berkaitan dengan gangguan ovulasi dan kesulitan mendapatkan kehamilan.

“Jadi ada gangguan lain yang belum disebutkan, paling tidak metabolisme yang paling utama tidak ada,” ujarnya.

Dengan perubahan istilah tersebut, Gita mengatakan PMOS diharapkan dapat menggambarkan kondisi secara lebih menyeluruh, yakni sebagai gangguan yang melibatkan sistem hormonal, metabolisme, dan ovarium, bukan sekadar kondisi yang dianggap sebagai penyakit kista pada indung telur.