Perubahan Musim Bisa Mengubah Energi, Mood, dan Produktivitas

Perubahan musim ternyata bisa memengaruhi energi, mood, stres, dan produktivitas sehari-hari.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 13:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasa energi dan suasana hati berubah ketika musim berganti? Bisa jadi bukan sekadar perasaan. Perubahan musim bisa mengubah energi, mood, dan produktivitas seseorang. Pada musim dingin, misalnya, energi cenderung menurun. Seseorang juga bisa menjadi kurang aktif bersosialisasi dan lebih sulit mempertahankan rutinitas olahraga.

Sebaliknya, hari yang lebih panjang pada musim semi dapat membuat tubuh terasa lebih berenergi. Musim panas bahkan dilaporkan sebagai periode dengan aktivitas fisik dan sosial yang lebih tinggi. Namun, pengaruh musim tidak dirasakan semua orang dengan cara yang sama.

Kondisinya juga bergantung pada lokasi tempat tinggal. Orang yang berada di belahan bumi berbeda dapat mengalami perubahan musim dan tingkat energi yang berbeda pada waktu yang sama. Psikolog dan peneliti pascadoktoral bidang ilmu perilaku di Arizona State University, Masha Remskar, menjelaskan, kemampuan seseorang menghadapi stres sebenarnya tidak selalu berada pada tingkat yang sama.

"Ketahanan terhadap stres bukanlah kondisi yang tetap, melainkan keseimbangan dinamis antara kemampuan mental dan fisik seseorang dengan tuntutan yang dihadapinya," ujar Remskar.

Ritme Tubuh Memengaruhi Stres

Menurut Remskar, tubuh manusia memiliki berbagai ritme yang saling berinteraksi. Salah satunya adalah jam biologis yang mengatur pola tidur dan bangun. Setiap orang juga memiliki chronotype, yaitu kecenderungan alami tubuh untuk lebih aktif pada waktu tertentu.

Ada orang yang merasa lebih segar dan produktif pada pagi hari, sementara sebagian lainnya justru lebih aktif pada malam hari. Selain ritme tubuh, tuntutan kehidupan sehari-hari juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang menghadapi stres.

Pekerjaan, mengurus keluarga, masalah kesehatan, hingga tenggat waktu dapat membuat beban terasa lebih berat ketika terjadi bersamaan dengan kondisi tubuh yang sedang kurang optimal. Perubahan musim turut memengaruhi kondisi tersebut.

Suhu, cuaca, paparan cahaya matahari, aktivitas fisik, hingga kesempatan untuk bersosialisasi dapat berubah mengikuti musim. Pengaruhnya terhadap suasana hati dan kondisi biologis juga berbeda-beda, terutama berdasarkan lokasi seseorang dari garis khatulistiwa.

 

Jangan Paksa Diri Selalu Produktif

Remskar menyarankan agar perubahan energi dan kapasitas tubuh tidak selalu dianggap sebagai sesuatu yang harus dilawan. Ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu mengenali, menyesuaikan, dan beradaptasi.

Pertama, kenali bahwa perubahan energi dan mood merupakan hal yang wajar. Kedua, sesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh jika memungkinkan. Misalnya, tidur lebih awal atau memilih olahraga dengan intensitas lebih ringan ketika energi sedang menurun.

Ketiga, tetap membangun kebiasaan sehat untuk menghadapi kondisi yang tidak bisa diubah. Tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi dan beragam, serta rutin berolahraga dapat membantu membangun ketahanan tubuh terhadap stres.

Latihan mindfulness dan teknik pernapasan sederhana juga dapat digunakan untuk membantu meredakan stres. Pada akhirnya, perubahan energi, mood, dan produktivitas bukan berarti seseorang menjadi lebih lemah atau kurang mampu.

"Apakah Anda orang yang sama pada Februari seperti pada Juni? Mungkin tidak—dan itu bukan kekurangan yang harus diperbaiki, melainkan ritme yang perlu kita hadapi," kata Remskar.

Memahami ritme tubuh dapat membantu kita lebih realistis dalam mengatur aktivitas, mengelola stres, dan menjaga produktivitas tanpa harus memaksa diri selalu berada dalam kondisi terbaik.