Liputan6.com, Jakarta - Indonesia resmi memasuki fase aging population setelah proporsi penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen dari total populasi berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Perubahan struktur penduduk ini menjadi tonggak baru pembangunan kependudukan nasional sekaligus menghadirkan tantangan besar bagi keluarga, sistem ekonomi, hingga perlindungan sosial.
Data SUPAS 2025 menunjukkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia melambat menjadi 1,08 persen per tahun. Sementara itu, Total Fertility Rate (TFR) turun menjadi 2,13 anak per perempuan, mendekati tingkat penggantian (replacement level). Di sisi lain, rasio ketergantungan meningkat menjadi 45,05 yang menandakan semakin besarnya beban yang harus ditanggung penduduk usia produktif.
Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Prof. Budi Setiyono, S.Sos., M.Pol.Admin., Ph.D., mengatakan perubahan tersebut merupakan bagian dari transisi demografi yang lazim dialami negara-negara yang berhasil meningkatkan kualitas hidup penduduknya.
Advertisement
"Perubahan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Masyarakat Indonesia hidup lebih lama, kualitas kesehatan semakin baik, dan angka kematian terus menurun," kata Budi dalam keterangan resmi yang diterima Health Liputan6.com pada Jumat, 7 Agustus 2026.Â
Namun, lanjut Budi, perubahan demografi tersebut juga membawa konsekuensi baru yang perlu diantisipasi, yaitu meningkatnya kebutuhan perlindungan sosial bagi lansia serta bertambahnya beban yang ditanggung oleh penduduk usia produktif.
Menurut dia, tantangan utama bukan terletak pada meningkatnya jumlah lansia, melainkan pada kesiapan keluarga, sistem ekonomi, layanan kesehatan, dan perlindungan sosial dalam menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut.
Sandwich Generation Berpotensi Terus Bertambah
Salah satu dampak yang mulai dirasakan adalah meningkatnya potensi sandwich generation, yakni kelompok usia produktif yang harus membiayai dan merawat dua generasi sekaligus, yaitu anak-anak yang masih menjadi tanggungan dan orang tua yang memasuki usia lanjut.
Kondisi tersebut juga tercermin dalam hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025. Data Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan sekitar 25,17 juta keluarga, atau 33,98 persen dari seluruh keluarga yang terdata, memiliki sedikitnya satu anggota lanjut usia. Dengan kata lain, hampir satu dari tiga keluarga di Indonesia kini hidup bersama lansia.
"Data tersebut menunjukkan bahwa proses penuaan penduduk (population aging) bukan lagi sekadar proyeksi masa depan, tetapi telah menjadi realitas yang dihadapi keluarga Indonesia. Semakin banyak keluarga yang mulai menghadapi kebutuhan perawatan lansia bersamaan dengan tanggung jawab membesarkan anak," kata Budi.
Dia, menjelaskan, fenomena sandwich generation bukan sekadar persoalan rumah tangga, melainkan konsekuensi sosial dan ekonomi dari perubahan demografi. Di Indonesia, sebagian besar pekerja masih berada di sektor informal sehingga belum memiliki perlindungan pensiun yang memadai. Akibatnya, kebutuhan hidup pada usia lanjut masih banyak bergantung pada dukungan keluarga.
Risiko Menua Sebelum Kaya
Lebih lanjut Budi menambahkan kondisi tersebut berpotensi membuat Indonesia menghadapi risiko growing old before growing rich, yakni ketika suatu negara memasuki masyarakat menua sebelum memiliki tingkat kesejahteraan dan sistem perlindungan sosial yang mapan.
Dalam jangka panjang, beban ekonomi keluarga dapat meningkat karena penduduk usia produktif harus memenuhi kebutuhan anak sekaligus orang tua. Oleh sebab itu, dia menilai penguatan sistem perlindungan sosial harus menjadi prioritas.
Pendataan Keluarga yang dilakukan Kemendukbangga/BKKBN juga terus dikembangkan sebagai early warning system untuk memetakan wilayah dengan potensi tinggi mengalami peningkatan sandwich generation, sehingga kebijakan yang disusun dapat lebih tepat sasaran.
"Yang perlu dipersiapkan adalah kemampuan negara dan keluarga dalam beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Penguatan sistem jaminan hari tua, perluasan layanan kesehatan dan perawatan jangka panjang bagi lansia, peningkatan literasi keuangan, pengembangan kebijakan ketenagakerjaan yang ramah keluarga, serta penguatan program pembangunan keluarga menjadi agenda strategis yang perlu dipercepat,"Â ujarnya.
Selain itu, Budi menekankan pentingnya mengembangkan konsep active aging agar lansia tetap sehat, mandiri, produktif, dan mampu berkontribusi dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Menurutnya, peningkatan jumlah lansia juga dapat menjadi peluang untuk mendorong pertumbuhan silver economy, bukan semata-mata dipandang sebagai beban pembangunan.
Melalui program SIDAYA (Lansia Berdaya), Kemendukbangga/BKKBN berharap Indonesia mampu menjaga keberlanjutan bonus demografi sekaligus membangun masyarakat menua yang sehat, mandiri, produktif, dan sejahtera menuju Indonesia Emas 2045.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317456/original/060618600_1786013917-Screenshot_2026-08-06_164447.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317507/original/011159500_1786016808-cek_fakta_gibran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310889/original/017316800_1785380146-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-30T095434.257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312077/original/024885800_1785478974-indomaret.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317690/original/074587200_1786061804-Sekretaris_KementerianSekretaris_Utama_KemendukbanggaBKKBN__Prof._Budi_Setiyono__S.Sos.__M.Pol.Admin.__Ph.D._.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)