Remaja Alami Tekanan Darah Tinggi, Waspada Hipertensi Sekunder

Remaja mengalami hipertensi bukanlah hal yang umum terjadi. Bisa jadi itu hipertensi sekunder.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 17 Mei 2026, 18:00 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam, Ni Made Hustrini soal hipertensi sekunder di Jakarta, Minggu (17/5/2026). Foto: Liputan6.com/Ade Nasihudin.

Liputan6.com, Jakarta - Hipertensi pada usia terlalu muda bukanlah hal yang umum terjadi. Menurut dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Ni Made Hustrini jika hipertensi muncul di usia 15 maka perlu dicurigai ada sesuatu yang salah.

“Hipertensi pada usia yang ekstrem yakni terlalu muda atau terlalu tua, kita harus mencurigai adanya sesuatu,” kata Ni Made Hustrini kepada Kesehatan Liputan6.com dalam temu media bersama Indonesian Society of Hypertension (InaSH) dan Beurer di Jakarta pada Minggu (17/5/2026).

Dia menambahkan, hipertensi pada usia ekstrem kerap disebut sebagai hipertensi sekunder. Di mana penyebabnya bukanlah kekakuan pembuluh darah layaknya hipertensi primer.

“Ini namanya hipertensi yang sekunder, sebagian besar orang itu mengalami hipertensi yang primer yang terjadi karena kekakuan pembuluh darah. Kita makin tua pembuluh darah kita tuh mulai tidak elastis, kaku, nah itulah yang mengakselerasi terjadinya kenaikan tekanan darah,” jelasnya.

“Tapi kalau terjadinya misalnya usia 15 tahun, 18 tahun, di bawah 30 tahun, kalau dia sudah menderita tekanan darah tinggi kita harus pikirkan oh ini mungkin ada sesuatu,” imbuhnya.

Maka dari itu, hipertensi pada usia terlalu muda tidak boleh buru-buru disimpulkan sebagai hipertensi primer atau hipertensi biasa.

“Jadi tidak buru-buru menyimpulkan bahwa ini hipertensi yang biasa. Biasanya sangat besar kemungkinan dia ada gangguan ginjal, atau gangguan hormon terutama tiroid dan yang lainnya yang mengganggu pengaturan tekanan darahnya,” paparnya.

Ni Made Hustrini menambahkan, angka kasus hipertensi sekunder tidaklah tinggi. Jika diagnosis salah maka penanganannya pun akan keliru.

“Jadi orang-orang seperti ini memang tidak banyak kisarannya hanya sekitar 5 sampai 10 persen, tapi kalau diagnosisnya tidak tepat dan tidak diterapi dengan baik, komplikasinya sangat berbahaya,” ujarnya.

Temuan Hipertensi pada Anak Sekolah

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi dalam temu media Hari Hipertensi Sedunia di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi, menyampaikan adanya temuan hipertensi pada anak usia sekolah.

Temuan ini muncul dari data Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pada 2025, sudah 70 juta orang melaksanakan CKG. Dari 70 juta itu, sambung Nadia, 15 juta di antaranya mengidap hipertensi.

“Dan kita mendapatkan sedikit angka yang masih kami coba verifikasi lagi, ada peningkatan tekanan darah pada anak usia SMA (Sekolah Menengah Atas).”

Menurut Nadia, temuan ini tengah dievaluasi dan dicari tahu apa penyebabnya. Pasalnya, naiknya tensi bisa terjadi hanya saat bertemu perawat atau dokter yang memeriksa, sementara dalam kondisi lain tekanan darahnya normal.

“Ini yang sedang kami validasi mengenai angkanya, apakah betul memang terjadi peningkatan tekanan darah pada usia anak SMA atau ada faktor-faktor lain,” jelas Nadia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya