Selain Kunang-Kunang, Ini Sederet Hewan Penanda Kondisi Alam Sebenarnya

Kunang-kunang bukan satu-satunya indikator kesehatan lingkungan, ini sederet hewan dan tumbuhan yang punya peran serupa.

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 24 Juni 2026, 15:39 WIB
Ilustrasi hewan yang Jadi Indikator Kesehatan Lingkungan. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta - Kunang-kunang yang kian langka menjadi tanda kuat penurunan kesehatan lingkungan. Pasalnya, kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan.

Menurut Ahli Kesehatan Lingkungan dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, selain kunang-kunang, hewan yang dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan adalah katak dan amfibi lainnya. Umumnya, ketiadaan katak di daerah perairan menjadi tanda adanya polusi air.

“Juga ada lebah sebagai indikator kesehatan ekosistem, tonggeret (riang-riang) juga sama,” kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi Senin (22/6/2026).

Selain hewan, ada pula tumbuhan yang dapat menjadi indikator kesehatan lingkungan, salah satunya lichen alias lumut kerak. Ini merupakan tumbuhan indikator yang peka terhadap pencemaran udara. Jika lumut ini absen di perkotaan, maka artinya kualitas udara buruk.

“Kalau bicara pemetaan bioindikator berdasarkan komponen lingkungan, misalnya kualitas air sungai, biasanya ini bisa kita lihat dari amfibi seperti katak dan salamander,” jelas dia.

Hewan amfibi ini sangat sensitif terhadap polutan air dan sering menunjukkan kelainan perkembangan atau berkurangnya keberhasilan reproduksi di lingkungan yang tercemar.

“Kalau udara atau lingkungan darat, itu misalnya lebah madu. Lebah madu ini terbukti jadi biomonitor yang sangat berharga dalam melihat polutan tanah dan udara,” tambahnya.

Selain itu, ada burung walet yang berpotensi sebagai bioindikator resistensi antimikroba lingkungan.  

Mengapa Hewan Bisa Jadi Indikator Kesehatan Lingkungan?

Epidemiolog sekaligus ahli kesehatan lingkungan, dr. Dicky Budiman, Ph.D., soal kunang-kunang sebagai indikator kesehatan lingkungan. Foto: Dok. Pribadi.

Sebelumnya Dicky menjelaskan bahwa kunang-kunang mengalami penurunan populasi secara global. Riset yang diterbitkan Science of The Total Environment mengonfirmasi bahwa populasi kunang-kunang benar-benar menurun.

“Menghilangnya kunang-kunang adalah indikasi menurunnya kesehatan lingkungan. Ini secara ilmiah sangat kuat karena kunang-kunang secara ekologis berfungsi sebagai bioindikator vital kesehatan lingkungan,” katanya.

Lantas, mengapa kunang-kunang bisa menjadi bioindikator kesehatan lingkungan?

“Karena siklus hidupnya multihabitat yang sangat kompleks. Kondisi ini membuat hewan ini sangat sensitif terhadap semua parameter kualitas lingkungan secara umum.”

Pada tahap larva, kunang-kunang hidup di tanah dalam waktu satu hingga dua tahun. Setelah itu, larva masuk ke fase pupa atau kepompong dengan habitat di tanah atau lumut lembap selama tiga sampai empat minggu. Pada tahap dewasa, kunang-kunang hidup di vegetasi tepian air.

“Ancaman yang terdeteksi pada level larva adalah pestisida, kekeringan, perubahan iklim. Kalau pada pupa ya kompresi tanah dan urbanisasi,” ujar Dicky.

Kehilangan habitat, polusi, dan penggunaan insektisida menjadi alasan mengapa kunang-kunang tak dapat bertahan dari fase ke fase. Pola iklim dan cuaca disinyalir kuat memberi ancaman paling besar karena larva kunang-kunang sangat bergantung pada kelembapan tanah untuk bertahan hidup.

“Urbanisasi, perluasan pertanian dan deforestasi juga secara langsung menghancurkan habitat basah, hutan, dan rawa yang esensial bagi siklus hidup kunang-kunang.”

Dari perspektif One Health (kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan), hilangnya kunang-kunang adalah sinyal cascade ecological.

“Jadi, kalau serangga yang sangat sensitif ini tidak bisa bertahan, maka ekosistem tersebut telah kehilangan integritas fundamentalnya. Artinya memengaruhi ekosistem yang manusia butuhkan yaitu air bersih, tanah subur, dan rantai pangan,” ujar Dicky.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya