Masuk Musim Kemarau, Menkes Imbau Masyarakat Perkuat Imunitas

Masuki musim kemarau, imunitas atau daya tahan tubuh mesti dijaga dengan cara berikut.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 10 Juli 2026, 14:00 WIB
Ilustrasi musim kemarau (dok. Charles Chen/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat menjaga kesehatan memasuki masa kemarau yang disertai kemungkinan cuaca panas. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan sehat.

"Masyarakat harus menjaga kesehatannya, makannya cukup karena itu bagus untuk menjaga imunitas," tutur Budi ditemui di Jakarta Pusat pada Jumat (10/7/2026).

Selain dari makanan bergizi, upaya meningkatkan imunitas dilakukan dengan beristirahat yang cukup dan mengatur waktu istirahat dengan baik seperti ditambahkan Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dokter Andi Saguni.

Andi mengatakan kondisi cuaca yang lebih panas dan kering di musim kemarau perlu diantisipasi tidak hanya oleh masyarakat tapi juga fasilitas pelayanan kesehatan, serta tenaga kesehatan.Salah satu penyakit yang rentan terjadi di musim kemarau adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Setiap tahun akan begitu karena perubahan iklim dan perubahan cuaca. Yang paling penting adalah kita semua harus menjaga kesehatan," kata Andi ditemui di kesempatan yang sama. 

Andi juga mengingatkan bahwa kelompok yang paling berisiko terdampak cuaca panas di musim kemarau adalah mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan (outdoor) maupun bekerja di lingkungan dengan paparan panas yang tinggi.

"Ya, tentunya orang-orang yang aktivitasnya banyak di luar gedung atau outdoor, kemudian juga mereka yang bekerja di tempat-tempat yang memang memiliki risiko lebih tinggi," kata Andi.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026. Jumlah tersebut meningkat 11,3 persen dibandingkan dasarian sebelumnya.

BMKG menegaskan musim kemarau tidak berarti hujan berhenti sepenuhnya. Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih berpotensi terjadi secara lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya