Suka Timbun Barang Disebut Hoarding Disorder, Kalau Emas 74 Kg?

Viral emas 74 kg, apakah termasuk hoarding disorder? Ketahui fakta menurut psikologi.

Diterbitkan 10 Juli 2026, 15:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Publik belakangan ini dihebohkan dengan kabar viral mengenai temuan tumpukan emas seberat 74 kg (kilogram) beserta uang tunai ratusan miliar rupiah di kawasan Sentul. Fenomena menyimpan kekayaan dalam jumlah fantastis di tempat yang tidak biasa itu pun memunculkan pertanyaan dari sisi kesehatan mental.

Dalam psikologi, kebiasaan menimbun barang yang sebenarnya tidak lagi bernilai atau tidak dibutuhkan dikenal sebagai hoarding disorder. Penderitanya memiliki dorongan kuat untuk terus menyimpan barang, mulai dari botol bekas, kardus, hingga kertas, meski rumah sudah dipenuhi tumpukan barang.

Di luar kondisi tersebut, ada pula istilah money anxiety atau kecemasan finansial. Kondisi ini menggambarkan rasa khawatir yang berlebihan terhadap uang, aset, atau kondisi keuangan sehingga dapat memengaruhi perilaku seseorang, termasuk kecenderungan menimbun barang atau kekayaan.

Apabila berlangsung dalam jangka panjang, kecemasan finansial dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan yang mengganggu kualitas hidup. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga berkaitan dengan munculnya hoarding disorder.

Fakta Tingkat Stres Finansial Global

Mengutip Healthline, Jumat (10/7/2026), Survei Stress in America yang dirilis American Psychological Association (APA) pada 2022 menunjukkan bahwa inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab stres terbesar di masyarakat.

Sebanyak 87 persen responden mengaku kenaikan harga, mulai dari bahan bakar hingga makanan, membuat mereka khawatir. Bahkan, peneliti menyebut tidak ada isu lain yang memicu tingkat stres setinggi ini sejak survei tahunan tersebut pertama kali dilakukan pada 2007.

Hoarding disorder merupakan gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan dorongan kuat untuk mengumpulkan barang-barang yang sebenarnya tidak diperlukan, disertai kesulitan atau rasa berat untuk membuangnya.

Salah satu faktor yang dapat memicu kondisi ini adalah money anxiety. Rasa takut kekurangan uang di masa depan dapat mendorong seseorang melakukan perilaku menimbun, seperti:

  • Menyimpan makanan meski sudah lama melewati tanggal kedaluwarsa.
  • Menyimpan tisu atau serbet bekas untuk digunakan kembali di kemudian hari.
  • Membeli atau mengoleksi banyak peralatan rumah tangga yang sama sebagai cadangan.
  • Menyimpan setiap kantong plastik, tas belanja, atau kardus bekas, meski rumah sudah tidak memiliki ruang yang cukup.

Dampak bagi Kesehatan dan Finansial

Pakar kesehatan menegaskan bahwa menyimpan atau menggunakan kembali barang yang masih layak pakai merupakan hal yang wajar. Namun, perilaku tersebut menjadi tidak sehat ketika seseorang kehilangan kemampuan untuk membedakan barang yang masih berguna dengan yang seharusnya sudah dibuang.

Jika terus dibiarkan, kebiasaan menimbun akibat kecemasan finansial dapat membuat rumah menjadi sempit, kotor, dan tidak aman untuk ditinggali.

Ironisnya, niat menghemat uang justru bisa berujung sebaliknya. Lingkungan rumah yang tidak sehat meningkatkan risiko cedera maupun penyakit, sehingga berpotensi menimbulkan biaya pengobatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.