Liputan6.com, Jakarta - Kasus mata minus atau miopia pada anak terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini bahkan semakin sering ditemukan setelah pandemi COVID-19, seiring meningkatnya penggunaan gadget dan berkurangnya aktivitas anak di luar ruangan. Menariknya, penyebab mata minus anak ternyata bukan cuma faktor keturunan tapi juga dipengaruhi oleh gaya hidup dan lingkungan.
Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengatakan, saat ini banyak anak mengalami miopia meski kedua orang tuanya tidak memiliki riwayat mata minus. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor lingkungan memiliki peran besar terhadap munculnya gangguan penglihatan tersebut.
Advertisement
"Kalau dilihat dari riwayat keluarganya, ternyata orang tuanya belum tentu memakai kacamata atau memiliki masalah miopia atau mata minus juga. Jadi, kelihatannya faktor lingkungan punya peran," kata Julie kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela acara Indonesia Meet The Expert 2026 yang mengusung tema Defining the Standard in miopia Management-From Evidence to Daily Practice: Why Essilor Stellest Lens Sets The Benchmark pada Minggu (12/7/2026)
Menurutnya, kebiasaan anak menggunakan gawai dalam waktu lama, terlalu sering menatap layar, minim aktivitas di luar rumah, hingga kurang terpapar sinar matahari menjadi faktor yang diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus miopia.
Padahal, paparan sinar matahari dinilai penting untuk membantu menahan munculnya mata minus sekaligus memperlambat progresivitasnya. Sebaliknya, screen time yang berlebihan diduga menjadi salah satu pemicu bertambahnya angka kasus miopia pada anak.
Selain itu, Julie menilai masih banyak orang tua yang baru menyadari anak mengalami mata minus ketika kondisinya sudah cukup berat. Biasanya, kondisi tersebut baru diketahui setelah anak mulai bersekolah dan kesulitan melihat tulisan di papan tulis.
"Kalau orang tuanya aware atau waspada, mereka sebenarnya bisa melihat tanda-tandanya di rumah. Misalnya, anak sering memicingkan mata, memiringkan kepala saat melihat, atau selalu mendekat ke televisi," tambahnya.
Anak Beradaptasi dengan Mata Minus
Dia menambahkan bahwa pada tahap awal, anak masih mampu beradaptasi dengan ukuran minus yang kecil sehingga keluhan sering tidak disadari. Namun, ketika minus bertambah, kemampuan melihat jarak jauh akan semakin terganggu.
Untuk mencegah mata minus bertambah cepat, Julie menyarankan orang tua mengubah pola hidup anak sejak dini. Salah satunya dengan memperbanyak aktivitas di luar ruangan.
"Minimal dua jam sehari anak harus terpapar sinar matahari. Kurangi penggunaan gadget dan kurangi screen time-nya," kata dia.
Selain itu, anak juga dianjurkan menerapkan aturan 20-20-20, yakni setiap 20 menit menatap layar, istirahat selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 feet atau sekitar enam meter.
Kebiasaan sederhana ini, kata Julie, dapat membantu mengurangi ketegangan mata akibat penggunaan layar dalam waktu lama.
Jangan Takut Ajak Anak Main di Luar
Julie juga mengingatkan agar orang tua tidak takut mengajak anak beraktivitas di luar ruangan. Menurutnya, paparan sinar matahari justru dibutuhkan untuk membantu menahan progresivitas miopia.
"Jangan menghindari sinar matahari. Menghindari matahari itu tidak bagus. Justru kita harus mencari paparan sinar matahari," ujar Julie.
Dia menyarankan anak beraktivitas di luar pada pagi atau sore hari ketika sinar matahari masih tersedia. Namun, mengingat Indonesia memiliki paparan sinar ultraviolet (UV) yang cukup tinggi, perlindungan mata tetap diperlukan saat berada di luar ruangan.
"Sejak muda, kalau kita beraktivitas di luar, pakailah sunglasses dan topi. Selain itu, konsumsi antioksidan dari sayur dan buah juga penting. Harapannya, kemunculan katarak bisa dihambat hingga usia yang lebih tua, sehingga tidak muncul terlalu dini," ujarnya.
Dalam beberapa kasus, dokter juga dapat memberikan terapi berupa obat tetes atropin dosis rendah, yaitu 0,01 hingga 0,05 persen, untuk membantu memperlambat progresivitas miopia.
Selain itu, kini juga tersedia teknologi myopia control lens, yaitu lensa kacamata yang dirancang khusus untuk menghambat penambahan minus pada anak.
Akibat Mata Minus yang Tidak Terkontrol
Julie mengingatkan bahwa mata minus bukan sekadar membuat penglihatan menjadi buram. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berkembang menjadi miopia patologis akibat bola mata yang terus memanjang.
Akibatnya, retina dan jaringan pembuluh darah di dalam mata ikut tertarik dan menipis sehingga meningkatkan risiko gangguan penglihatan yang lebih serius.
"Fungsi penglihatan pasti akan menjadi lebih buruk jika minus ini tidak kita kontrol. Bahkan bisa sampai menyebabkan kebutaan," pungkasnya.