WHO Wanti-Wanti Dampak Gelombang Panas Eropa yang Meluas

Gelombang panas Eropa kian ekstrem, memicu kebakaran hutan dan ancaman iklim yang makin nyata.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gelombang panas ekstrem kembali melanda Eropa Barat. Kawasan ini bahkan mencatat suhu rata-rata tertinggi dalam sejarah pengamatan cuaca untuk bulan Juni.

Dampaknya mulai terasa di berbagai negara, mulai dari kebakaran hutan berskala besar, rekor suhu di sejumlah kota, hingga jatuhnya korban jiwa. Para ilmuwan memperingatkan bahwa kondisi ini menjadi bukti nyata dampak perubahan iklim yang semakin sulit dihindari.

Mengutip The Guardian pada Sabtu (11/7/2026), layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan suhu udara permukaan di Eropa Barat pada Juni 2026 berada 3,06 derajat Celsius di atas rata-rata beberapa dekade terakhir. Kenaikan suhu tersebut diperparah oleh emisi karbon yang terus meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas.

Dalam enam pekan terakhir, Eropa Barat telah mengalami tiga gelombang panas berturut-turut. Kondisi yang semakin kering membuat titik api kecil dengan cepat berkembang menjadi kebakaran hutan besar yang sulit dikendalikan.

Copernicus menyebut rangkaian gelombang panas ini sebagai gambaran tantangan baru yang harus dihadapi Eropa akibat iklim yang semakin ekstrem, seperti dikutip dari Kanal Global Liputan6.com pada Minggu (12/7/2026)

Kebakaran hutan kini meluas di Prancis, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa Selatan. Uni Eropa pun mengerahkan tambahan petugas pemadam kebakaran serta pesawat pengebom air untuk membantu negara-negara yang kewalahan menangani banyak titik api secara bersamaan.

Data terbaru menunjukkan luas lahan yang terbakar di Uni Eropa sepanjang tahun ini meningkat lebih dari 56 persen dibandingkan rata-rata periode yang sama.

Berdasarkan Sistem Informasi Kebakaran Hutan Eropa (European Forest Fire Information System/EFFIS), sekitar 35.400 hektare lahan di Prancis terbakar, atau empat kali lebih luas dari rata-rata tahunan.

Sementara di Spanyol, kebakaran telah menghanguskan sekitar 55.128 hektare lahan, atau dua kali lipat dari kondisi normal.

Gelombang panas juga memecahkan rekor suhu di sejumlah kota. Barcelona, misalnya, mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 40,5 derajat Celsius pada Rabu.

Di Prancis, seorang petugas pemadam kebakaran berusia 22 tahun meninggal dunia saat bertugas memadamkan kebakaran di kawasan Pegunungan Alpen.

 

Alami Gangguan Tidur

Sementara itu, Inggris masih menghadapi gelombang panas yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) menyebut negara tersebut sedang mengalami gelombang panas ketiga sepanjang 2026. Suhu diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius pada Kamis dan berpotensi bertahan hingga sekitar 10 hari.

Tak hanya siang hari yang terasa lebih panas, suhu malam juga terus meningkat. Fenomena yang dikenal sebagai malam tropis ini membuat suhu minimum rata-rata pada Juni menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pencatatan. Kondisi tersebut mulai berdampak pada kesehatan masyarakat.

Survei yang dirilis pada Selasa menunjukkan dua dari tiga warga Inggris mengaku mengalami gangguan tidur akibat suhu malam yang tetap tinggi.

"Melihat suhu seperti ini terjadi di Inggris pada bulan Juni benar-benar mengkhawatirkan. Peristiwa seperti ini menunjukkan dampak nyata perubahan iklim," kata Kepala Ilmuwan Met Office, Stephen Belcher.

Dewan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Nasional Inggris (National Fire Chiefs Council/NFCC) juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena cuaca panas secara signifikan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Dalam beberapa pekan terakhir, petugas telah menangani sejumlah kebakaran hutan di wilayah selatan dan timur Inggris.

"Sebagian besar kebakaran hutan sebenarnya dipicu oleh aktivitas manusia, mulai dari pemanggang sekali pakai yang ditinggalkan, puntung rokok yang dibuang sembarangan, hingga botol kaca yang terpapar sinar matahari. Semua orang memiliki peran untuk mencegahnya," ujar Penasihat Taktis NFCC, Dave Swallow.

 

200 Ribu Orang Meninggal Dunia

Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 200 ribu orang di Eropa meninggal akibat cuaca panas dalam empat tahun terakhir. WHO menilai sebagian besar kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui langkah mitigasi yang lebih baik.

Para pakar merekomendasikan sejumlah upaya, seperti menyediakan pendingin ruangan bagi kelompok rentan, membangun pusat pendinginan bagi masyarakat, memperbanyak peneduh pada bangunan, serta memperkuat sistem layanan kesehatan agar lebih siap menghadapi cuaca ekstrem.

Selain itu, penghijauan perkotaan dinilai menjadi solusi jangka panjang yang efektif. Pohon mampu menurunkan suhu lingkungan secara signifikan saat gelombang panas terjadi.

Namun, analisis Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) menunjukkan Inggris masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa lainnya dalam hal tutupan pohon di kawasan perkotaan.

Rata-rata tutupan pohon di kota-kota Inggris hanya mencapai 18 persen, jauh di bawah rata-rata kota-kota Eropa yang mencapai 30 persen. Dari 47 kota yang dianalisis, sebanyak 45 kota memiliki tutupan pohon di bawah rata-rata Eropa.

London tercatat memiliki tutupan pohon sebesar 18 persen, Burnley menjadi yang terendah dengan 11 persen, sedangkan Guildford tertinggi dengan 37 persen.

Sebagai perbandingan, Barcelona memiliki tutupan pohon sekitar 31 persen, sementara Nice mencapai 39 persen.

"Penanaman pohon dapat membantu menurunkan suhu bangunan sekaligus menyediakan ruang yang lebih aman bagi masyarakat untuk tetap beraktivitas saat cuaca panas. Sayangnya, Inggris masih tertinggal jauh dalam hal ini," kata analis ECIU, Tom Cantillon.