Liputan6.com, Jakarta - Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena yang dikenal sebagai resesi persahabatan (friendship recession). Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki lebih sedikit teman, terutama teman dekat, serta semakin jarang menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Fenomena ini banyak dirasakan oleh orang berusia 30-an yang mulai kesulitan membangun maupun mempertahankan hubungan pertemanan yang erat.
Resesi persahabatan pertama kali diamati di Kanada dan Amerika Serikat pada akhir abad ke-20. Sejak 1990, jumlah orang dewasa yang mengaku tidak memiliki teman dekat meningkat dari 3 persen menjadi 12 persen. Sementara itu, jumlah orang yang memiliki 10 teman dekat atau lebih turun drastis dari 33 persen menjadi 13 persen. Kelompok pria menjadi yang paling terdampak, dengan persentase pria tanpa teman dekat meningkat dari 3 persen menjadi 15 persen.
Memasuki usia 30-an, banyak orang menghadapi perubahan besar dalam hidup, seperti menikah, memiliki anak, dan tuntutan karier yang semakin tinggi. Kondisi ini membuat waktu dan energi untuk membangun atau merawat hubungan pertemanan menjadi semakin terbatas.
Advertisement
Profesor Psikologi UOC, Adrin Montesano menjelaskan bahwa pada usia tersebut seseorang mulai memiliki tujuan hidup yang lebih jelas sehingga lingkaran pertemanan semasa remaja tidak lagi menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas diri.
Selain itu, hubungan romantis sering kali menjadi sumber utama dukungan emosional sehingga perhatian terhadap persahabatan berkurang. Tuntutan pekerjaan, perjalanan yang panjang, tanggung jawab mengasuh anak, hingga tekanan finansial juga menguras energi emosional.
Penulis:Â Vinsensia Dianawanti/Lifestyle Liputan6.com
Â
Ada Faktor Tekanan Finansial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3154036/original/050718200_1592295274-bagas-muhammad-y3xgrWNQy-0-unsplash.jpg)
Menurut Mirage News, pekerjaan, hubungan, pengasuhan anak, tekanan finansial, dan tanggung jawab merawat anggota keluarga membuat banyak orang dewasa tidak lagi memiliki kapasitas mental untuk memulai atau mempertahankan pertemanan baru.
Sosiolog UOC, Natlia Cant, menambahkan, sebagian besar waktu orang dewasa habis untuk pekerjaan dan keluarga sehingga hanya sedikit waktu yang tersisa untuk membangun kehidupan sosial. Padahal, persahabatan membutuhkan waktu, keterbukaan, dan konsistensi.
Faktor lain yang turut memicu resesi persahabatan adalah semakin berkurangnya keberadaan "tempat ketiga" (third place), yaitu ruang berkumpul di luar rumah dan tempat kerja, seperti kafe, perpustakaan, taman, balai komunitas, maupun tempat ibadah. Tempat-tempat ini dulu menjadi ruang alami untuk bertemu orang baru dan membangun hubungan sosial.
Selain itu, mobilitas yang tinggi karena pekerjaan atau keluarga membuat banyak orang harus berpindah tempat tinggal sehingga jaringan pertemanan yang sudah terbentuk ikut terputus.
Â
Advertisement
Tren Jarak Jauh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5455399/original/053031300_1766650963-connor-wilkins-qbqFnJvrwSM-unsplash.jpg)
Tren kerja jarak jauh (remote working) juga mengurangi kesempatan berinteraksi langsung dengan rekan kerja yang sebelumnya sering menjadi awal terbentuknya persahabatan baru. Di sisi lain, media sosial memang memudahkan orang tetap terhubung, tetapi hubungan yang terjalin secara digital sering kali tidak mampu menggantikan kualitas interaksi tatap muka.
Psychology Today menyebut media sosial bahkan dapat memperburuk keadaan karena menciptakan ilusi bahwa kehidupan sosial orang lain tampak lebih baik dibandingkan diri sendiri. Kondisi ini dapat memperkuat rasa kesepian.
Pandemi COVID-19 juga mempercepat fenomena tersebut. Survei dari Survey Center on American Life menunjukkan bahwa kebiasaan bersosialisasi mengalami penurunan selama pandemi sehingga banyak orang merasa semakin sulit untuk kembali membangun hubungan sosial setelahnya.
Dampak resesi persahabatan tidak hanya sebatas rasa kesepian. Dr. Sebastian Tong dari Family Medicine Clinic di Harborview Medical Center menjelaskan bahwa kesepian merupakan persepsi bahwa seseorang tidak memiliki hubungan sosial dan interaksi yang memadai dengan orang lain.
Â
Faktor Kesepian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499314/original/030488800_1770782606-hasan-almasi-_X2UAmIcpko-unsplash.jpg)
Kesepian yang berlangsung dalam jangka panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kesehatan fisik dan mental, bahkan kematian dini. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa dampak isolasi sosial terhadap kesehatan setara dengan risiko akibat merokok, obesitas, maupun kurangnya aktivitas fisik.
Meski demikian, resesi persahabatan bukan kondisi yang tidak bisa diatasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah kembali menghubungi teman lama, lebih aktif membangun hubungan baru, mengikuti komunitas atau kegiatan sesuai minat, serta terbuka terhadap interaksi sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti dikatakan Anne Helen Petersen,"Waktu untuk teman adalah sebuah hak istimewa, tetapi juga soal prioritas." Dengan menempatkan kualitas hubungan di atas jumlah teman serta berani membangun kedekatan secara tulus, seseorang dapat kembali memiliki hubungan pertemanan yang lebih bermakna, terutama saat memasuki usia 30-an dan seterusnya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294353/original/011938600_1783830677-cek_fakta_-_bansos_pkh_juli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488956/original/064020100_1769771942-pppk_bgn_-_klaim.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497973/original/089166700_1770695732-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-10T105228.255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3590281/original/029206000_1633154880-melissa-askew-a1n1yPxHoIM-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294699/original/022281100_1783851743-England_s_Harry_Kane__left__Jude_Bellingham__center__and_Morgan_Rogers.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294548/original/063184200_1783843237-063_2285693617.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294309/original/057015000_1783829242-ar13.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294340/original/000872600_1783830200-000_B9XN79R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294301/original/036531900_1783829241-ar5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294280/original/068914000_1783828183-063_2285710148.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294169/original/097035400_1783819062-ing7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294167/original/059057200_1783819062-ing5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294151/original/003111900_1783815882-000_B9XL63W.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290291/original/064791600_1783449810-me5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294138/original/059237800_1783813068-000_B9XJ6UC.jpg)