Sekolah hingga Sore Lalu Les Bisa Picu Miopia pada Anak

Sekolah hingga sore lalu les dapat meningkatkan risiko miopia pada anak. Simak penjelasan dokter.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekolah hingga sore lalu dilanjutkan dengan les dapat meningkatkan risiko miopia atau rabun jauh pada anak. Bagaimana tidak? Jadwal yang padat membuat anak semakin banyak menghabiskan waktu untuk aktivitas melihat jarak dekat (near work) dan mengurangi kesempatan bermain di luar ruangan.

Ketua PERDAMI Jakarta, dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengatakan, perubahan pola aktivitas anak menjadi salah satu faktor lingkungan yang berperan dalam meningkatnya kasus myopia.

"Beban sekolah anak sekarang ini berbeda. Kita dulu mungkin jam 12 atau jam 1 sudah pulang, sekarang mereka jam 4 sore baru pulang. Jadi beban sekolah tinggi dan dilanjutkan lagi dengan les sehingga sangat kurang waktu mereka untuk bermain," kata Julie di acara Indonesia Meet The Expert 2026 yang mengusung tema Defining the Standard in Myopia Management-From Evidence to Daily Practice: Why Essilor Stellest Lens Sets The Benchmark pada Minggu (12/7/2026)

Menurutnya, minimnya aktivitas di luar ruangan, kurangnya paparan sinar matahari, serta tingginya intensitas near work seperti belajar, mengerjakan tugas, dan menatap layar gawai dalam waktu lama dapat mempercepat perkembangan myopia.

"Faktor lingkungan, keterbatasan dalam melakukan aktivitas di luar rumah atau kurang paparan terhadap matahari, dan intensif near work, jadi screen time-nya terlalu berlebihan atau melakukan aktivitas dekat yang terlalu berlebihan," ujarnya.

Julie menjelaskan bahwa anak yang memasuki fase pre-miopia memiliki peluang lebih besar untuk dicegah agar tidak berkembang menjadi miopia yang lebih berat. Karena itu, fase ini menjadi waktu yang ideal untuk melakukan intervensi sejak dini.

"Pada fase ini merupakan satu kesempatan untuk kita melakukan intervensi lebih dini. Jadi merupakan satu waktu yang ideal untuk melakukan intervensi," katanya.

Dia, menambahkan, semakin muda usia anak saat mulai mengalami miopia, semakin cepat pula progresivitasnya. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi high myopia hingga pathologic myopia, yang meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti stafiloma posterior, myopic maculopathy, atrofi retina, hingga neuropati optik.

"Kalau progresivitas ini tidak kita tahan, maka ada komplikasi di masa mendatang yang kurang baik, yang tentunya akan menyebabkan gangguan penglihatan berat," ujar Julie.

Untuk membantu memperlambat perkembangan miopia, dia menyarankan orang tua mulai membatasi screen time, memperbanyak aktivitas anak di luar rumah, serta menjaga pola tidur agar tetap teratur. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mata anak sejak dini.