Psikolog Ungkap Alasan Tak Semua Emosi Perlu Diungkapkan

Psikolog mengungkap alasan tak semua emosi perlu diungkapkan demi menjaga hubungan tetap sehat.

Diterbitkan 12 Juli 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menunjukkan emosi memang penting untuk menjaga kesehatan mental. Namun, bukan berarti semua perasaan harus diungkapkan begitu saja. Psikolog mengingatkan bahwa memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana mengekspresikan emosi merupakan kunci untuk menjaga hubungan sosial tetap sehat sekaligus menghindari kesalahpahaman.

Psikolog dari Australian National University, Conal Monaghan, bersama tim peneliti menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki display rules, yaitu norma sosial yang mengatur kapan seseorang dianggap tepat untuk mengekspresikan atau menahan emosinya, seperti dikutip dari Antara pada Minggu (12/7/2026)

Dalam penelitian yang melibatkan responden dewasa di Inggris, seperti dikutip dari Psychology Today, tim peneliti mengembangkan Expression Regulation Scale (ERS) untuk memahami bagaimana orang memandang ekspresi emosi dalam berbagai situasi, baik di ruang publik maupun pribadi, serta saat bersama orang terdekat maupun orang yang tidak dikenal.

Hasil penelitian membagi emosi ke dalam tiga kategori. Pertama, emosi afiliatif, seperti bahagia, bangga, penuh harapan, kasih sayang, dan antusiasme. Kedua, emosi disruptif, seperti marah, benci, iri, dan kesal. Ketiga, emosi rentan, seperti sedih, takut, malu, merasa bersalah, dan terluka.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyusun tiga aturan utama dalam mengekspresikan emosi.

Pertama, emosi positif atau emosi afiliatif. Emosi ini umumnya dapat diungkapkan secara terbuka. Menunjukkan kebahagiaan, rasa bangga, atau antusiasme dinilai dapat diterima, baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan pribadi, selama tetap sesuai dengan situasi.

Kedua, emosi disruptif. Emosi seperti kemarahan sebaiknya lebih dikendalikan. Peneliti menemukan bahwa meluapkan amarah di depan umum, terutama kepada orang yang tidak dikenal, merupakan salah satu pelanggaran norma sosial yang paling besar. Ekspresi seperti berteriak atau meluapkan kemarahan di tempat umum cenderung mendapat penilaian negatif.

Ketiga, kedekatan hubungan. Menurut Monaghan dan tim, hubungan yang dekat memungkinkan seseorang mengungkapkan perasaannya dengan lebih terbuka tanpa mengabaikan pentingnya menjaga hubungan tetap positif.

Peneliti menyimpulkan bahwa memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana emosi diungkapkan dapat membantu membangun interaksi sosial yang lebih sehat sekaligus mengurangi risiko kesalahpahaman dalam hubungan dengan orang lain.

Reporter: Arief Aszhari