Makan Bersama Keluarga Bisa Berdampak pada Perilaku Anak

Certified Positive Discipline Parent Educator, Damar Wijayanti, beberkan manfaat makan bersama keluarga.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 16 Juli 2026, 06:00 WIB
Certified Positive Discipline Parent Educator, Damar Wijayanti menyebut bahwa makan bersama bantu perilaku anak. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan makan bersama keluarga kini semakin jarang dilakukan. Kesibukan orang tua, aktivitas anak, hingga penggunaan gawai saat makan membuat momen kebersamaan di meja makan perlahan menghilang. Padahal, kebiasaan sederhana ini ternyata bisa memberikan dampak besar terhadap perilaku hingga kesehatan mental anak.

Certified Positive Discipline Parent Educator, Damar Wijayanti, mengatakan, makan bersama keluarga bukan sekadar memenuhi kebutuhan gizi, tapi juga menjadi waktu penting untuk membangun hubungan emosional antara orang tua dan anak.

"Kalau itu dilakukan di pagi hari, percaya deh, perilaku-perilaku menantang di pagi hari itu bisa turun. Karena kalau di positive discipline, kebanyakan perilaku menantang itu adalah masalah connection. Begitu connection yang kuat, ya koneksi antara anak dengan orang tua yang kuat, perilaku menantang itu gugur satu-satu," ujar Damar kepada Kesehatan Liputan6.com di sela-sela diskusi bersama Dairy Champ pada Rabu (15/7/2026)  

Menurutnya, banyak perilaku yang dianggap sebagai kenakalan anak sebenarnya berakar dari kurangnya kedekatan emosional dengan orang tua. Ketika anak merasa diperhatikan, dicintai, dan dihargai, dorongan untuk mencari perhatian melalui perilaku negatif akan berkurang.

"Kayak enggak ada alasan lagi buat dia melakukan perilaku menantang, karena dia sudah merasa penting, berharga, dicintai. Terus mau cari apa lagi? Keuntungannya sudah terpenuhi semua," katanya.

Makan Bersama Keluarga Jadi Sarana Belajar Anak

Selain mempererat hubungan keluarga, makan bersama juga menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar kebiasaan makan yang sehat. Anak cenderung meniru apa yang dilakukan orang tuanya, termasuk dalam memilih makanan.

Oleh sebab itu, Damar mengingatkan agar orang tua tidak hanya menyiapkan makanan bergizi untuk anak, tetapi juga memberikan contoh dengan mengonsumsi menu yang sehat.

"Anak akan mendapatkan contoh bagaimana makan bergizi, makan yang seimbang. Jadi jangan cuma anaknya disediakan makanan seimbang, tapi orang tuanya jajan seblak. Anak butuh contoh juga, oh makan seimbang itu seperti ini," ujarnya.

Tak hanya soal pilihan makanan, anak juga belajar etika makan, seperti makan dengan penuh perhatian (mindful eating), tidak sambil menonton, hingga menikmati waktu bersama anggota keluarga.

Menurut Damar, kebiasaan makan bersama keluarga sudah seharusnya kembali dibudayakan karena manfaatnya tidak hanya dirasakan anak, tetapi juga seluruh anggota keluarga.

 

Orang Tua Perlu Kreatif Siapkan Bekal Anak

Certified Positive Discipline Parent Educator, Damar Wijayanti menyebut bahwa makan bersama bantu perilaku anak. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Masalah lain yang kerap dihadapi orang tua adalah anak yang hanya ingin mengonsumsi makanan favorit, seperti mi atau makanan manis. Kondisi ini sering membuat asupan protein dan serat anak menjadi kurang optimal.

Damar menyarankan agar orang tua tidak langsung memaksa anak, melainkan mengolah makanan favoritnya menjadi menu yang lebih bergizi.

Misalnya, jika anak menyukai pasta, orang tua dapat menambahkan susu, telur, maupun daging agar kandungan proteinnya meningkat. Begitu pula dengan makanan yang kaya serat, seperti jagung, yang bisa disajikan dengan tambahan bumbu atau pelengkap agar lebih menarik bagi anak.

"Jadi, bahan yang dia suka itu masuk ke dalam menunya. Sangat bisa diolah karena dianggap sebagai ingredients. Makanya bisa dimacam-macamin sesuai dengan kebutuhan kita," ujar Damar.

Pendekatan ini membuat anak tetap menikmati makanan kesukaannya tanpa kehilangan kesempatan memperoleh nutrisi penting yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang.

Pada akhirnya, makan bersama keluarga bukan hanya membangun pola makan sehat, tetapi juga memperkuat ikatan emosional, menciptakan komunikasi yang hangat, sekaligus membantu membentuk perilaku positif anak sejak dini. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan fisik maupun mental anak.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya