Halodoc Rilis Penyakit yang Banyak Dialami Karyawan

Pada karyawan usia lebih matang kisaran 30 hingga 49 mulai semi-jompo, banyak yang mengeluhkan nyeri otot dan sendi.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 16 Juli 2026, 16:45 WIB
Chief of Medical Halodoc, dokter Irwan Heriyanto (kedua dari kiri) mengungkapkan penyakit yang banyak mendera karyawan berdasarkan usia dan jenis kelamin.

Liputan6.com, Jakarta - Ekosistem layanan kesehatan digital, Halodoc, merilis tren penyakit pada karyawan selama awal 2026. Berdasarkan laporan dari satu juta transaksi layanan kesehatan yang tercatat Halodoc pada Januari - Maret 2026 pada 30 industri, karyawan muda di bawah 30 tahun lebih rentan alami penyakit akut seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam, diare.

Dari sisi jenis layanan kesehatan, ISPA menjadi diagnosis teratas rawat jalan dan infeksi pencernaan menjadi diagnosis teratas rawat inap.

"Bisa jadi ini karena aktivitas sehari-hari misalnya saat berada di LRT atau KRL untuk berangkat ke kantor ada yang bersin kemudian tertular. Bisa juga karena kurang menjaga tubuh sehingga jatuh sakit,"  tutur Chief of Medical Halodoc, dokter Irwan Heriyanto.

"Sangat wajar di usia di bawah 30 tahun bisa terkena penyakit seperti itu," lanjut Irwan dalam konferensi pers Indonesia Employee Health & Benefit Insights 2026 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).

Sementara itu, pada usia 30 hingga 49 mulai banyak karyawan yang mengeluhkan gangguan muskuloskeletal, seperti nyeri otot dan sendi. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, postur tubuh saat bekerja, serta gaya hidup sehari-hari.

"Mulai semi jompo nih di sini. Muncul keluhan gangguan muskuloskeletal," lanjut Irwan.

Untuk kelompok usia 50 ke atas, karyawan berobat untuk penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, dan hipertensi menjadi kondisi yang semakin sering dijumpai seiring bertambahnya usia.

Penyakit Kardiovaskular pada Laki-Laki

Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria bicara efisiensi signifikan dari layanan telemedicine.

Bila mengacu pada gender atau jenis kelamin, sekitar 81 karyawan laki-laki banyak yang mengeluhkan penyakit kardiovaskular. Hal ini bisa jadi imbas kebiasaan dan gaya hidup seperti merokok dan mengonsumsi makanan tidak dengan konsep gizi seimbang atau.

Sementara itu, sekitar 72 persen pasien perempuan mengalami kanker dan neoplasma. Hal ini erat kaitannya dengan hormon. 

Laporan ini juga mengungkap efisiensi signifikan dari layanan telemedicine atau Digital Cashless Outpatient (DCO) Halodoc yakni:

● Telemedicine menangani 24% dari seluruh kasus hanya dengan 8% dari total biaya kesehatan. Tingkat penyelesaian kasus di atas 95% tanpa kunjungan fisik lanjutan dalam 30 hari.

● Pada pasien kronis, penggunaan DCO menghasilkan penghematan biaya hingga 66,4% dalam 90 hari dibandingkan pasien yang tidak menggunakan layanan digital.

"Laporan ini bukan hanya tentang angka kesehatan, ini adalah cermin untuk melihat profil kesehatan tenaga kerjanya secara nyata, dan dasar untuk merancang strategi yang benar-benar tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan," kata Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria di kesempatan yang sama.

 

Tips agar Karyawan Tetap Sehat

Irwan mengatakan dari temuan penyakit yang diidap karyawan di atas, maka langkah yang paling penting adalah melakukan upaya preventif.

Tujuannya, penyakit dapat dicegah sebelum berkembang menjadi lebih serius. Irwan mengatakan beberapa hal yang dapat dilakukan agar menjadi karyawan yang lebih sehat antara lain:

1. Rutin menjalani skrining kesehatan atau medical check-up (MCU).

Program skrining bisa difasilitasi oleh perusahaan dan disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan maupun risiko kesehatan di lingkungan kerja.

2. Menjaga pola makan dan gaya hidup sehat.

Karyawan dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan tidak berlebihan, serta membatasi makanan yang dapat meningkatkan risiko penyakit.

3. Aktif bergerak dan rutin berolahraga.

Aktivitas fisik penting untuk menjaga kebugaran sekaligus mengurangi risiko gangguan otot, sendi, maupun penyakit kronis.

4. Mengelola stres dengan baik.

Stres yang tidak terkendali dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental sehingga perlu dikelola secara tepat.

5. Melengkapi vaksinasi yang direkomendasikan.

Melakukan program vaksinasi sesuai kebutuhan, misalnya vaksin influenza.

"Vaksin flu dapat mengurangi kunjungan ke rumah sakit hingga 66 persen. Artinya, pekerja yang sudah divaksin memiliki perlindungan yang lebih baik dibandingkan yang belum divaksin," jelas Irwan.

Selain melindungi kesehatan karyawan, penerapan langkah preventif seperti skrining kesehatan, vaksinasi, serta pola hidup sehat juga dapat memberikan manfaat ekonomi.

"Upaya preventif bisa menekan biaya kesehatan hingga tiga kali lipat. Kalau penyakit bisa dicegah sejak awal, manfaatnya bukan hanya untuk karyawan, tetapi juga mengurangi beban biaya yang harus dikeluarkan perusahaan," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya