Liputan6.com, Jakarta - Pada 2025 sekitar dua juta penduduk Indonesia berobat ke luar negeri. Termasuk diantaranya pasien jantung yang melakukan pengobatan di Singapura, Malaysia, China atau Korea Selatan. Padahal kualitas dan alat-alat di Indonesia tak kalah hebat dari luar negeri. Lalu, apa pemicunya?
Menurut kardiolog senior sekaligus Ketua Dewan Etik Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Muhammad Munawar, SpJP(K) masih banyak masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri bukan karena dokter tidak kompeten. Melainkan pada pengalaman pasien secara menyeluruh selama menjalani layanan kesehatan.
Advertisement
"Kualitas pelayanan tidak berhenti pada tindakan medis. Transparansi komunikasi, pelayanan yang humanis, proses yang mudah dipahami, serta pengalaman pasien sejak pertama datang hingga selesai menjalani perawatan merupakan bagian penting dalam membangun kembali trust masyarakat terhadap layanan kesehatan Indonesia," ujar Muhammad yang juga disepakati Ketua Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia, dr. Renan Sukmawan, Sp.JP(K), PhD dalam Annual Scientific Meeting of Indonesia Heart Association (ASMIHA) ke-35 di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono. Menurut Dante, masih banyak warga Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri bukan karena tidak mencintai Indonesia, melainkan karena kepercayaan terhadap sistem layanan kesehatan nasional belum sepenuhnya terbangun.
"Dalam dunia kardiologi, di mana setiap detik dan setiap keputusan bisa berarti batas antara hidup dan mati, kepercayaan itu adalah segalanya," kata Dante mengutip Antara.
Selain faktor kepercayaan, Dante menilai pemerataan layanan juga masih menjadi tantangan. Saat ini Indonesia baru memiliki sekitar 1.600 dokter spesialis jantung yang aktif, dengan sekitar 60 persen di antaranya terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Keterbatasan tersebut turut berdampak pada akses layanan. Menurut Dante, tindakan intervensi untuk penyakit jantung saat ini baru tersedia di 293 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Dahlan Iskan: Masyarakat Cari Layanan yang Mudah Diakses
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh tokoh publik Dahlan Iskan yang membagikan pengalamannya sebagai pasien sekaligus pemerhati layanan kesehatan. Menurutnya, masyarakat tidak hanya mencari rumah sakit dengan teknologi paling canggih, tetapi juga menginginkan layanan yang mudah diakses, birokrasi yang sederhana, waktu tunggu yang singkat, serta komunikasi yang hangat dan penuh empati.
"Bagi pasien, rasa percaya dibangun dari pengalaman. Ketika pelayanan terasa manusiawi, masyarakat akan semakin yakin bahwa mereka dapat memperoleh pelayanan terbaik di negeri sendiri," kata Dahlan.