Dokter: Operasi Batu Ginjal Bukan Akhir, Pasien Harus Rutin Kontrol

Seseorang yang sudah pernah menjalani pengobatan batu ginjal dan sembuh, peluang terbentuknya kembali tetap ada.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 30 Juli 2026, 15:15 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, Mutalib Abdullah dari Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong bicara soal batu ginjal.

Liputan6.com, Tangerang - Operasi atau tindakan medis untuk mengatasi batu ginjal bukan berarti pengobatan telah selesai. Pasien tetap perlu menjalani kontrol secara berkala karena batu ginjal dapat terbentuk kembali dan meningkatkan risiko komplikasi apabila tidak dipantau.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi, Mutalib Abdullah mengatakan masih banyak pasien yang menganggap penyakitnya telah sembuh setelah menjalani tindakan seperti extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL) maupun terapi laser Magneto.

"Setelah dilakukan ESWL ataupun tindakan laser Magneto, sebetulnya pasien tetap harus kontrol. Jangan menganggap penyakitnya sudah selesai karena batu bisa terbentuk lagi," kata Mutalib.

Mutalib mengungkapkan pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan minum, pola makan hingga konsumsi obat-obatan maupun jamu yang berpotensi bersifat nefrotoksik atau dapat merusak ginjal. Maka dari itu menjalani gaya hidup sehat dan pemantauan rutin menjadi bagian penting dalam mencegah kekambuhan.

Batu ginjal adalah endapan padat dan keras yang terbentuk dari penumpukan mineral serta garam di dalam ginjal. Gejala penyakit ini adalah pasien merasakan nyeri hebat di pinggang atau perut. Lalu, saat buang air kecil terasa perih bahkan berdarah. Terkadang orang yang mengalami kondisi ini mengalami mual.

Bila batu ginjal tidak segera ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Batu dapat menyumbat saluran kemih sehingga aliran urine terganggu dan menyebabkan hidronefrosis atau pembengkakan ginjal.

"Kalau batu dibiarkan, bisa terjadi infeksi. Ginjal tetap memproduksi urine, tetapi tidak bisa mengalir dengan baik seringa menimbulkan penumpukan, racun, dan infeksi. Kalau terlambat ditangani, bisa berujung pada gagal ginjal," ujar dokter  yang termasuk dalam tim dokter Urology & Nephrology Clinic Bethsaida Hospital Gading Serpong Banten ini pada Rabu (29/7/2026).

 

Usia Mulai Skrining Batu Ginjal

Dokter spesialis urologi subspesialis trauma & rekonstruksi saluran kemih, Donny Eka Putra, ingatkan usia skrining ginjal.

Mutalib mengimbau masyarakat untuk tidak menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksakan kesehatan ginjal. Skrining dapat dilakukan sejak usia muda, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.

"Usia muda silakan, apalagi buat yang punya faktor risiko, misalnya ada anggota keluarga dengan Riwayat batu ginjal," tutur Mutalib.

Ditambahkan dokter spesialis urologi subspesialis trauma & rekonstruksi saluran kemih, Donny Eka Putra, pemeriksaan kesehatan ginjal penting dilakukan oleh kelompok usia produktif, sekitar 25 hingga 35 tahun.

"Pemeriksaan bisa dilakukan melalui urinalisis sebagai bagian dari medical check-up. Akan lebih baik lagi jika dilengkapi dengan pemeriksaan USG," kata Donny.

Ia berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya deteksi dini dan kontrol rutin, sehingga batu ginjal dapat ditangani sejak awal dan risiko terjadinya gagal ginjal dapat ditekan.

"Jika masalah ginjal terjadi di usia produktif maka bisa memengaruhi efektivitas saat bekerja," tuturnya.

 

Batu Ginjal, Masalah Ginjal yang Kerap Ditemukan

Donny mengungkapkan batu ginjal merupakan salah satu masalah kesehatan yang kerap ditemukan di bidang urologi dan nefrologi. Disusul oleh masalah pembesaran prostat dan gagal ginjal.

Mengingat penyakit tersebut membutuhkan kolaborasi lintas disiplin membuat Bethsaida Hospital menghadirkan Urology & Nephrology Clinic yang diluncurkan pada Rabu, 29 Juli 2026.

"Pelayanan kesehatan yang baik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan pelayanan yang terintegrasi, berpusat pada pasien, dan didukung kolaborasi multidisiplin," kata Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Margareth Aryani Santoso, MARS.

Salah satu teknologi kesehatan yang jadi andalan dalam pelayanan di klinik ini adalah Cyber Ho dengan Magneto Technology. Teknologi laser Magneto ini untuk menangani batu saluran kemih maupun pembesaran prostat. Pada kasus batu saluran kemih, teknologi ini memungkinkan proses fragmentasi maupun dusting, sehingga batu dapat dipecah menjadi partikel yang lebih halus dengan kontrol yang lebih presisi.

"Karena batu ginjal diubah menjadi partikel halus seperti debu, maka saat keluar dari tubuh tidak menyebabkan gesekan yang menyakitkan atau berdarah" tutur wanita yang karib disapa Megi itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya