Hasil CKG Ungkap Anemia pada Remaja Laki-Laki Hampir Setara Perempuan

Skrining CKG mengungkap anemia pada remaja laki-laki hampir setara perempuan. Apa penyebabnya?

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 15 Agustus 2026, 14:00 WIB
Direktur RECONSTRA Iwan Ariawan memaparkan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan anemia pada remaja laki-laki ternyata hampir setara dengan remaja perempuan. (Foto: Unsplash/Chinh Le Duc)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur RECONSTRA (Research for Human Development), Iwan Ariawan, memaparkan hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menunjukkan bahwa anemia pada remaja laki-laki ternyata hampir setara dengan remaja perempuan.

Dalam acara “Diskusi Publik: Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?” pada Kamis, 13 Agustus 2026, Iwan menyampaikan bahwa pemeriksaan terhadap siswa kelas 1 SMP, yang mencakup remaja laki-laki dan perempuan, menemukan prevalensi anemia sekitar 25–27 persen.

"Di kelas 1 SMP, karena diperiksa keduanya, baik laki-laki dan perempuan, masalah anemia ini bukan hanya perempuan. Di laki-laki juga ternyata sama. Padahal, program kita selama ini TTD remaja putri, yang laki-laki tidak dapat," ujar Iwan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa anemia pada remaja tidak hanya menjadi persoalan pada remaja perempuan. Remaja laki-laki juga berpotensi mengalami kadar hemoglobin rendah hingga mengalami anemia.

Selama ini, upaya pencegahan anemia di sekolah umumnya dilakukan melalui pemberian tablet tambah darah (TTD) yang lebih banyak menyasar remaja putri. Kebijakan tersebut berkaitan dengan kebutuhan zat besi yang meningkat akibat menstruasi setiap bulan.

Namun, hasil skrining CKG menunjukkan bahwa masalah anemia pada remaja laki-laki perlu mendapat perhatian. Angkanya ditemukan hampir setara dengan remaja perempuan.

Masalah anemia juga berlanjut hingga jenjang SMA. Pada siswa kelas 1 SMA perempuan, angka anemia tercatat sekitar 30 persen. Secara keseluruhan, sekitar satu dari tiga anak usia SMA mengalami anemia.

Iwan mengingatkan, anemia yang tidak ditangani dapat berdampak pada konsentrasi dan kemampuan belajar anak di sekolah.

Sementara pada remaja putri, anemia juga perlu dicegah sejak dini karena dapat berdampak pada kesehatan saat memasuki masa kehamilan.

Anemia yang tidak ditangani sebelum menikah berpotensi meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan masalah pertumbuhan, termasuk stunting.

CKG untuk Skrining dan Mengetahui Kondisi Anak

Iwan menjelaskan, CKG sejak awal dirancang sebagai program skrining dengan berbagai jenis pemeriksaan. Prosesnya dapat dilakukan melalui pengisian kuesioner oleh anak maupun orang tua, pemeriksaan fisik oleh dokter, hingga pemeriksaan laboratorium.

"Ini adalah skrining, bukan penelitian sebetulnya," kata Iwan.

Dari pemaparan tersebut, data yang telah dianalisis mencakup sekitar 23,5 juta anak yang mengikuti program CKG.

Langkah Pencegahan Anemia

Berdasarkan hasil diskusi dengan sejumlah pakar, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat upaya pencegahan anemia pada remaja.

Pertama, memperluas program pemberian TTD dan edukasi anemia. Kebijakan tidak hanya berfokus pada remaja putri, tetapi juga perlu mencakup remaja laki-laki sesuai indikasi dan hasil pemeriksaan.

Kedua, memperkuat edukasi kepada siswa dan remaja. Mereka perlu dilibatkan secara aktif melalui Forum Anak atau Posyandu Remaja sehingga dapat berperan sebagai edukator sebaya, bukan hanya sebagai penerima TTD.

Ketiga, memastikan hasil CKG diketahui oleh orang tua. Hasil pemeriksaan hemoglobin (Hb) siswa perlu disampaikan kepada orang tua agar dapat menjadi dasar tindak lanjut, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak di rumah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya