Perempuan di Jepang Buktikan Powerlifting Bisa Bangun Kekuatan dan Kepercayaan Diri

Perempuan di Jepang membuktikan powerlifting bukan sekadar angkat beban tapi juga membangun kekuatan.

Diterbitkan 14 September 2026, 05:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Mendengar kata powerlifting, sebagian perempuan mungkin langsung membayangkan barbel dengan beban berat, tangan penuh kapur, dan kompetisi dengan angkatan maksimal. Gambaran tersebut bisa membuat olahraga ini terlihat menakutkan atau dianggap hanya cocok untuk atlet.

Padahal, powerlifting tidak selalu tentang kompetisi atau mengangkat beban seberat mungkin. Olahraga ini juga dapat menjadi cara untuk membangun kekuatan, kepercayaan diri, dan hubungan yang lebih positif dengan tubuh.

Hal tersebut terlihat dalam Strongirls Strength Festival, kompetisi powerlifting khusus perempuan di Jepang. Sebanyak 40 perempuan mengikuti ajang yang digelar pada 12 Juli di MF Club Taura, Yokosuka, Prefektur Kanagawa.

Para peserta berkompetisi dalam tiga jenis angkatan utama, yakni squat, bench press, dan deadlift. Meski formatnya menyerupai kompetisi powerlifting pada umumnya, acara tersebut lebih menekankan kebersamaan daripada persaingan.

Strongirls Japan didirikan pada 2020 oleh Kanan Kasai, 30 tahun. Kelompok ini bertujuan menginspirasi perempuan untuk mendapatkan kembali kekuatan mereka dan menemukan kemampuan sebenarnya dari tubuh mereka.

Ayaka Makino, 35 tahun, merupakan salah satu peserta yang merasakan perubahan dari latihan tersebut. Ibu rumah tangga ini mampu melakukan squat dengan beban 80 kilogram dalam festival.

Makino mengatakan dirinya tumbuh dengan standar kecantikan di Jepang yang menganggap tubuh kurus sebagai sesuatu yang ideal.

Hal itu membuatnya merasa tidak percaya diri terhadap bagian tubuh tertentu. "Saya selalu merasa tidak percaya diri dengan pinggul saya,” katanya seperti dikutip dari Japan Times pada Senin, 14 September 2026.

Namun, setelah mulai melakukan powerlifting, pandangannya terhadap tubuh sendiri berubah. "Saya bangga pada diri saya karena bisa melakukan apa yang memang bisa saya lakukan. Berat badan tidak penting. Itu hanya angka," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Riko Okada, siswi sekolah menengah atas berumur 17 tahun dari Prefektur Saitama.

Dengan berat badan kurang dari 69 kilogram, Okada mampu melakukan squat 105 kilogram, bench press 65 kilogram, dan deadlift 130 kilogram.

Dia mengaku sudah terbiasa mendapat komentar bahwa tubuhnya gemuk. Namun, sejak berlatih bersama Strongirls, komentar tersebut tidak lagi terlalu memengaruhinya.

"Diri saya yang dulu mungkin akan merasa tertekan, tapi sekarang saya ingin memiliki tubuh yang besar dan indah, yang terbentuk dari otot dan lemak, jadi komentar tersebut tidak terlalu mengganggu saya," kata Okada.

Bagi Okada, feminitas juga tidak harus dikaitkan dengan bentuk tubuh atau penampilan. "Menurut saya, menjadi feminin berarti berperilaku secara alami tanpa terus-menerus memikirkan bagaimana orang lain menilai kita," katanya.

 

Tidak Harus Mengangkat Beban Maksimal

Salah satu anggapan tentang powerlifting adalah olahraga ini selalu berkaitan dengan one-rep max (1RM) atau kemampuan mengangkat beban maksimal dalam satu repetisi.

Padahal, latihan kekuatan tidak harus selalu dilakukan hingga batas kemampuan maksimal. Beban, jumlah repetisi, dan jenis latihan dapat disesuaikan dengan kemampuan serta tujuan masing-masing.

Artinya, seseorang tidak perlu mengangkat beban ekstrem untuk mendapatkan manfaat dari latihan kekuatan.

Dijelaskan whitebeltathletics bahwa latihan beban dapat membantu meningkatkan massa otot dan kekuatan tubuh. Bagi perempuan, latihan kekuatan juga penting untuk membantu menjaga kepadatan tulang seiring bertambahnya usia.

Kekuatan yang dibangun melalui latihan juga dapat mendukung aktivitas sehari-hari, seperti mengangkat barang, membawa belanjaan atau koper, serta bergerak dengan lebih percaya diri.

Manfaatnya tidak hanya dirasakan secara fisik. Ketika seseorang melihat kemampuan tubuhnya meningkat dari waktu ke waktu, proses tersebut juga dapat membantu membangun kepercayaan diri dan ketangguhan mental.

 

Powerlifting Tidak Harus Berujung Kompetisi

Powerlifting juga tidak mengharuskan seseorang mengikuti pertandingan. Kompetisi merupakan pilihan. Sementara itu, membangun kekuatan dapat menjadi tujuan latihan itu sendiri.

Seseorang dapat melakukan latihan bergaya powerlifting untuk menjadi lebih kuat, menjaga kebugaran, mendukung proses penuaan yang sehat, meningkatkan kepercayaan diri, atau membangun hubungan yang lebih positif dengan tubuh.

Latihannya pun tidak selalu harus berfokus pada tiga gerakan utama dengan beban terberat. Program dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing, termasuk menggunakan variasi gerakan, latihan satu sisi tubuh, penguatan otot inti, hingga latihan mobilitas.

Konsep tersebut terlihat dalam Strongirls Strength Festival. Meski peserta tetap dibagi berdasarkan kelas berat, penyelenggara tidak memberikan penalti jika berat badan peserta melebihi berat yang didaftarkan.

Penghargaan juga lebih menekankan pencapaian individu. Hanya tiga penghargaan diberikan, yakni favorit penonton, peningkatan terbesar, dan angkatan terbaik secara keseluruhan.

Mayumi Akahori, 62 tahun, misalnya, meraih penghargaan peningkatan terbesar. Dia mengatakan powerlifting membantu memperbaiki postur tubuh sekaligus membuat kebiasaan sehari-harinya menjadi lebih baik.

Akahori tetap berlatih meski pernah mendapat peringatan bahwa mengangkat beban berat dapat 'merusak tubuh'.

"Saya menjelaskan bahwa itu tidak masalah. Saya berlatih sambil mempelajari cara melakukannya dengan benar dan aman," katanya.

Sementara itu, Shaye Shumaker, 40 tahun, warga Amerika Serikat yang telah menghadiri seluruh enam penyelenggaraan Strongirls Strength Festival, menilai ajang tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi perempuan yang ingin mengenal powerlifting.

"Ini merupakan cara yang bagus untuk memperkenalkan orang-orang pada olahraga powerlifting karena hambatan untuk memulainya di Jepang, terutama bagi perempuan, jauh lebih besar," ujarnya.

Oleh sebab itu, powerlifting tidak harus dimaknai sebagai upaya menjadi orang terkuat di dalam ruangan. Bagi perempuan yang menjalaninya, olahraga ini dapat menjadi proses untuk mengenali kemampuan tubuh, membangun kekuatan secara bertahap, dan merasa lebih percaya diri.

Bagi Makino, pengalaman tersebut juga ingin ia teruskan kepada putrinya yang menyaksikan kompetisi dari pinggir arena.

"Saya ingin dia tahu bahwa tidak masalah apakah kamu perempuan atau laki-laki. Kamu tetap bisa melakukan angkat beban atau apa pun. Apa pun bisa menjadi mungkin," ujarnya.