Liputan6.com, Jakarta - Masalah gizi pada anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Tak hanya stunting dan gizi kurang, gangguan nutrisi yang terjadi sejak bayi juga dapat berdampak panjang hingga anak beranjak dewasa.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A (K), mengatakan, masalah gizi pada anak perlu dipahami secara menyeluruh. Sebab, periode anak tidak hanya mencakup balita, tapi juga sejak dalam kandungan hingga remaja.
Menurut dia, Indonesia sebagai negara berkembang masih menghadapi persoalan gizi kurang, gizi buruk, dan stunting. Kondisi ini berbeda dengan negara maju yang lebih banyak berhadapan dengan masalah gizi lebih atau obesitas.
Advertisement
Rini menjelaskan bahwa stunting bukan sekadar kondisi tubuh pendek. Stunting merupakan dampak dari malanutrisi dan infeksi kronis yang berlangsung dalam jangka panjang.
Risiko stunting dapat meningkat ketika bayi lahir dengan berat badan rendah, mengalami kekurangan asupan nutrisi, tidak mendapatkan nutrisi optimal pada dua tahun pertama kehidupan, serta tidak memperoleh penanganan yang memadai.
"Stunting itu istilahnya perawakan pendek karena malanutrisi dan ada infeksi kronis. Infeksi kronis adalah infeksi jangka panjang yang memengaruhi pertumbuhan anak," katanya di Grand Launching AceKid pada Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menambahkan, stunting dapat menciptakan siklus yang terus berulang. Anak yang mengalami stunting berisiko tumbuh menjadi remaja dengan perawakan pendek.
Saat dewasa, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah sehingga masalah yang sama berpotensi terulang pada generasi berikutnya.
Anak Gemuk Belum Tentu Sehat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5240344/original/078455400_1748917311-0bdb3a0b-9be0-42a7-8f03-31c6c44ac91f.jpg)
Selain stunting, Rini juga menyoroti meningkatnya kasus obesitas pada anak, terutama di perkotaan. Menurutnya, masih banyak orang tua yang menganggap anak gemuk sebagai tanda sehat. Padahal, obesitas justru dapat memicu berbagai gangguan kesehatan sejak usia dini.
"Orang tua masih berpersepsi kurang tepat bahwa anak yang gemuk itu sehat. Padahal tidak selalu demikian," katanya.
Salah satu dampak yang sering tidak disadari adalah gangguan tidur, termasuk obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Kondisi ini menyebabkan anak mengalami gangguan pernapasan saat tidur sehingga pasokan oksigen ke otak berkurang.
"Hati-hati kalau anak gemuk kemudian mengorok. Bisa terjadi OSAS. Kalau tidak ditangani, bisa menyebabkan gangguan belajar di kemudian hari," ujar Rini.
Selain itu, obesitas juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi yang kini mulai banyak ditemukan pada usia muda.
Advertisement
Kekurangan Zat Besi Dapat Pengaruhi Kecerdasan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553146/original/001461500_1775901327-gigit_mainan.jpeg)
Masalah lain yang sering luput dari perhatian adalah kekurangan zat gizi mikro, terutama zat besi. Rini mengingatkan bahwa anemia defisiensi besi yang terjadi sejak masa kehamilan hingga bayi dapat berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.
"Kalau terlambat ditangani, bisa memberikan dampak sehingga tingkat kecerdasannya berada di bawah rata-rata,"Â tambahnya.
Meski kadar hemoglobin dapat diperbaiki melalui pengobatan, kemampuan kognitif yang telanjur terganggu belum tentu dapat pulih sepenuhnya.
Selain zat besi, kekurangan vitamin D juga masih banyak ditemukan pada bayi dan balita di Indonesia.
Padahal, vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan tulang sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Untuk mendukung tumbuh kembang anak, Prof. Rini menegaskan bahwa nutrisi saja tidak cukup. Anak juga membutuhkan stimulasi yang tepat sejak dini.
"Dua hal penting dalam meningkatkan perkembangan otak adalah nutrisi dan stimulasi. Dua-duanya harus diberikan 100 persen,"Â ujar Rini.
Menurut Rini, stimulasi dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas sederhana yang melibatkan pancaindra anak, seperti mengajak berbicara, bermain, membaca buku, mendengarkan suara, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Kombinasi nutrisi yang baik dan stimulasi yang konsisten sejak awal kehidupan menjadi fondasi penting untuk mendukung pertumbuhan, kecerdasan, dan kesehatan anak hingga dewasa.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2739072/original/057326800_1551245536-20190227-Mahfud-Md-Datangi-KPK-DWI-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304320/original/074308900_1784712554-cek_fakta_lowongan_SKK_Migas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2365270/original/068589700_1537681835-20180923-Pawai-Kampanye-Damai-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/7999958/original/034868800_1780838628-Dokter_Spesialis_Anak_Konsultan_Tumbuh_Kembang__Prof._DR._dr._Rini_Sekartini__Sp.A__K_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303337/original/087011100_1784626958-063_2286813749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302533/original/039508800_1784583892-spanyol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304745/original/038419300_1784760756-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_3.56.49_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302572/original/053634200_1784596820-Ruang_Kreatif_Liburan_Anak_-_Kelas_Kesenian_Pengenalan_dan_Pembuatan_Wayang_Suket_oleh_Wayang_Suket_Indonesia_Foto_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4563349/original/026302900_1693876144-Lebih_dari_500_Sekolah_di_Prancis_Diawasi_Terkait_Larangan_Abaya-AFP__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3091205/original/027544500_1585737818-annie-spratt-86KXmkRWAMA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304362/original/069909600_1784713611-IMG_2220.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5105049/original/020855300_1737521299-usha_vance2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136500/original/020920300_1739863363-fd08fdd4-961a-4f05-894f-af2a19cb4300.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5392070/original/040731600_1761386899-meta_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298570/original/053200500_1784174776-Certified_Positive_Discipline_Parent_Educator__Damar_Wijayanti_oleh_Aditya_Eka_Prawira__10_.jpg)