Liputan6.com, Jakarta - Di balik tren penurunan prevalensi stunting dalam beberapa tahun terakhir, ada gangguan pertumbuhan anak yang masih harus jadi perhatian.
Berbagai persoalan gizi seperti kekurangan mikronutrien, overweight, dan obesitas terus berkembang dan memerlukan penanganan yang komprehensif.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menekankan bahwa tantangan gizi saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan tunggal.
Advertisement
Indonesia menghadapi fenomena triple burden of malnutrition, yaitu kondisi ketika stunting, defisiensi mikronutrien, dan kelebihan berat badan terjadi secara bersamaan.
“Permasalahan ini tidak hanya memengaruhi kesehatan anak saat ini, tetapi juga berdampak pada pencapaian pendidikan, produktivitas, serta kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan,” kata Ni Luh Putu Indi Dharmayanti mengutip laman BRIN, Rabu (17/6/2026).
Dia menjelaskan bahwa perubahan sistem pangan, urbanisasi, transisi pola konsumsi masyarakat, kesenjangan sosial ekonomi, serta akses yang belum merata terhadap layanan kesehatan dan gizi menjadi faktor yang memperumit upaya penanggulangan masalah gizi.
Oleh sebab itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor yang didukung oleh bukti ilmiah yang kuat agar solusi yang dihasilkan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Kencana Sari, mengulas hasil berbagai penelitian mengenai pola pertumbuhan anak Indonesia.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional masih berada pada angka 19,8 persen, sementara target nasional pada tahun 2029 ditetapkan sebesar 14,2 persen.
Pentingnya Intervensi Sejak Masa Kehamilan
"Gangguan pertumbuhan pada anak sebenarnya dimulai jauh lebih awal daripada yang selama ini diperkirakan. Hasil studi longitudinal di Bogor menunjukkan bahwa separuh anak mulai mengalami perlambatan pertumbuhan sebelum usia sembilan bulan. Bahkan periode kehilangan pertumbuhan terbesar terjadi pada usia 0–6 bulan," katanya.
Temuan tersebut memperkuat pentingnya intervensi sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan atau periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Masa ini merupakan periode paling responsif terhadap intervensi gizi dan kesehatan yang dapat menentukan kualitas pertumbuhan anak pada tahap berikutnya.
"Hampir 40 persen anak yang mengalami stunting pada usia 12 bulan tetap berada dalam kondisi yang sama hingga usia lima tahun. Meskipun demikian, peluang pemulihan atau catch-up growth masih dimungkinkan, terutama pada rentang usia 12–24 bulan. Setelah periode tersebut, peluang pemulihan berkurang secara signifikan," tambahnya.
Advertisement
Pertumbuhan Anak Tak Hanya Ditentukan Asupan Gizi
Lebih lanjut, hasil kajian menunjukkan bahwa pertumbuhan anak tidak hanya ditentukan oleh asupan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kesehatan ibu, kondisi sosial ekonomi, lingkungan, akses layanan kesehatan, serta kualitas sanitasi.
Anak-anak yang berasal dari kelompok sosial ekonomi lebih rendah cenderung memiliki tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan kelompok dengan kondisi ekonomi yang lebih baik, dan kesenjangan tersebut dapat bertahan hingga masa remaja.
Webinar ini menghadirkan perspektif global dari Daniel Hoffman, profesor dari Department of Nutritional Sciences, Program in International Nutrition, School of Environmental and Biological Sciences, Rutgers University, Amerika Serikat, yang memaparkan strategi pengelolaan triple burden of malnutrition di berbagai negara.
Paparan para narasumber menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pertumbuhan anak yang optimal. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui penguatan gizi dan kesehatan ibu-anak, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta penciptaan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
BRIN berharap hasil-hasil riset yang dipaparkan dalam forum ini dapat menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan dan program yang lebih efektif.
Penguatan sinergi antara peneliti, pemerintah, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan anak di Indonesia.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan mampu mempercepat pencapaian target penurunan stunting sekaligus membangun generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288313/original/005703000_1783311841-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-06T103916.100.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4889778/original/044650100_1720754462-tentara_israel_dapet_kiriman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300009/original/089493000_1784283677-Untitled_design.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297860/original/099954200_1784109220-cek_fakta_-_purbaya_kuis_tebak_nama_kota.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5460912/original/047178900_1767326454-anak.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299397/original/073517100_1784250863-000_B6Z433V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9300000/original/049582300_1784282893-mainoo_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111027/original/077801500_1783052609-AP26183730218725.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4265020/original/007345300_1671377845-4_AP22352556886313.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3202507/original/071215900_1596847894-AP20220691523830.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5247508/original/065942500_1749538198-pildun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8618472/original/047612700_1782607192-000_B8JU4KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287291/original/083160400_1783207895-063_2284678786.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299067/original/052484900_1784191879-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4256851/original/004151200_1670703759-7_AP22344709351178.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299482/original/065812300_1784259465-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9297796/original/002584500_1784106935-didier.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7999958/original/034868800_1780838628-Dokter_Spesialis_Anak_Konsultan_Tumbuh_Kembang__Prof._DR._dr._Rini_Sekartini__Sp.A__K_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5102885/original/015198300_1737448573-1737446560468_arti-stunting.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5566556/original/011876300_1777194211-e1df24d5-3a13-4353-942b-701218a448b1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2958532/original/091775500_1572936570-miskin1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5460388/original/035242000_1767248526-Jepretan_Layar_2025-12-30_pukul_13.19.25.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558207/original/049868000_1776409571-balai_desa_6.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556349/original/021899900_1776242021-Ketua_Dewan_Pembina_Indonesia_Health_Development_Center__IHDC___Prof._Dr._dr._Nila_Djuwita_F._Moeloek__SpM_K_.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511551/original/045597200_1771912531-SPPG.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441889/original/058278100_1765520069-7.jpg)