Menkes Siapkan Jurus Baru Demi Imunisasi Lengkap

Menkes mengungkap tiga strategi utama untuk mengejar target imunisasi nasional hingga 2029.

Diterbitkan 24 Juni 2026, 11:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan, ada tiga strategi utama untuk memastikan seluruh sasaran memperoleh imunisasi lengkap pada periode 2025 s.d 2029. Ketiga strategi tersebut meliputi penguatan infrastruktur layanan imunisasi, perbaikan sistem penyediaan vaksin, dan peningkatan edukasi kepada masyarakat.

Menurut Budi, prioritas utama dalam dua tahun ke depan adalah menuntaskan penyediaan infrastruktur imunisasi. Kemenkes RI menargetkan seluruh kebutuhan cold chain atau rantai dingin penyimpanan vaksin terpenuhi 100 persen dan dievaluasi setiap tahun.

Dia mengakui masih banyak kabupaten dan kota yang memiliki keterbatasan infrastruktur vaksin, terutama karena belum tersedianya lemari pendingin untuk penyimpanan vaksin, seperti dikutip dari Antara pada Rabu (24/6/2026)

Untuk mengatasi hal tersebut, kata Menkes, pemerintah akan memanfaatkan pendanaan dari pinjaman Bank Dunia dan hibah Danantara.

Di sisi lain, Kemenkes juga memperkuat sistem distribusi vaksin. Bersama United Nations Development Programme (UNDP), Kemenkes mengembangkan aplikasi SMILE yang mampu melacak status vaksin secara real time, mulai dari lokasi pengiriman, tanggal kedaluwarsa, hingga jumlah stok yang telah digunakan.

Aplikasi tersebut kini telah terintegrasi dengan Bio Farma sehingga kebutuhan vaksin dapat dipantau lebih cepat. Jika terjadi kekurangan stok, Bio Farma dapat segera mengirimkan vaksin dan memantau proses distribusinya.

Selain infrastruktur dan distribusi, Menkes menekankan pentingnya edukasi masyarakat terkait vaksinasi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, alasan utama anak tidak mendapatkan imunisasi antara lain karena tidak mendapat izin keluarga, takut Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi (KIPI), tidak mengetahui atau lupa jadwal imunisasi, anak sedang sakit, serta anggapan bahwa imunisasi tidak penting.

 

 

Edukasi dan Pendekatan ke Masyarakat

Untuk mengatasi hal tersebut, Kemenkes akan memperkuat edukasi dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami masyarakat, termasuk melalui tokoh agama, influencer, dan organisasi masyarakat seperti Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) serta Muhammadiyah.

Menkes juga menyoroti pentingnya menyasar para ayah dalam kampanye edukasi. Sebab, masih banyak ayah yang tidak mengizinkan anaknya menerima vaksinasi karena menganggap imunisasi tidak penting.

Selain itu, Kemenkes akan memperbaiki penyebaran informasi jadwal imunisasi dan bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mendorong pemerintah daerah meningkatkan cakupan imunisasi.

Untuk mendukung program tersebut, Kemenkes mencatat total ketersediaan anggaran imunisasi periode 2025 s.d 2029 mencapai Rp 39,58 triliun. Namun, angka itu masih lebih rendah dibandingkan kebutuhan pendanaan yang diperkirakan mencapai Rp 44,49 triliun.