Beda Heat Cramp, Heat Exhaution, dan Heatstroke yang Harus Dipahami Jemaah Haji

Tidak langsung heatstroke. Ketahui tahapan serangan panas yang rentan dialami jemaah haji.

Diterbitkan 06 Mei 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Madinah - Jemaah haji Indonesia diminta memahami perbedaan heat cramp, heat exhaustion, dan heatstroke guna mencegah dampak fatal selama beribadah di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi.

Kepala Seksi Petugas Khusus Penanganan Pertolongan Pertama Jemaah Haji (PKP2JH), Lansia, dan Disabilitas Daerah Kerja (Daker) Mekah, dokter Ridwan Susanto, menjelaskan, serangan panas tidak terjadi secara tiba-tiba, tapi melalui tahapan yang jelas. Tahap awal ditandai heat cramp dengan gejala kram otot, tubuh kaku, pegal, dan lemas.

Jika diabaikan dan aktivitas tetap dipaksakan, kondisi dapat berkembang menjadi heat exhaustion yang ditandai lemas mendadak, pusing hebat, serta penurunan kesadaran.

Ia menegaskan, kondisi paling berbahaya adalah heatstroke. “Kalau sudah sampai heatstroke, itu bisa terjadi kegagalan multiorgan, fungsi ginjal dan jantung terganggu karena dehidrasi, bahkan jemaah bisa ngamuk, bingung arah, atau disorientasi,” katanya di Kantor Daker Makkah, Minggu, 3 Mei 2026.

Ridwan menekankan pentingnya mengenali gejala sejak dini. Jemaah diminta segera beristirahat saat tubuh mulai terasa sangat lelah atau pegal, dan menghentikan aktivitas sepenuhnya jika muncul pusing atau pandangan mulai gelap.

Selain itu, ia mengingatkan agar jemaah tidak memaksakan ibadah hingga mengorbankan waktu istirahat. Kurang tidur, kelelahan, obesitas, serta penyakit penyerta, seperti infeksi paru dan demam, meningkatkan risiko serangan panas..

Upaya Pencegahan

Untuk pencegahan, jemaah dianjurkan mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak berlapis, menggunakan pelindung kepala, seperti topi atau payung, serta rutin menyemprot atau membasahi kepala dengan air untuk menurunkan suhu tubuh.

Lalu, penting juga pola minum yang benar, yakni sedikit tapi sering agar cairan terserap optimal oleh tubuh.

“Sering minum itu bukan berarti banyak sekaligus, tapi sedikit-sedikit, misalnya empat teguk per 10 menit,” katanya.

Di sisi lain, pihaknya menaruh perhatian khusus pada jemaah lanjut usia yang lebih rentan terhadap cuaca panas dan kelelahan. Ia meminta ketua kloter dan rombongan mengatur aktivitas secara bijak, termasuk memilih waktu ibadah yang lebih aman, seperti setelah subuh atau menjelang malam.

 

Jangan Paksakan Lakukan City Tour

Ia juga mengingatkan agar kegiatan tambahan seperti city tour tidak dipaksakan, terutama bagi jemaah lansia, demi menjaga kondisi menjelang puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

“Jangan sampai tenaga habis sebelum puncak haji, karena itu momen terpenting yang menentukan,” ujarnya.

Ia menegaskan, ibadah tidak harus selalu dilakukan di Masjidil Haram secara berulang jika kondisi fisik tidak memungkinkan. Ia meminta jemaah mengatur strategi ibadah agar tetap prima hingga fase Armuzna, sehingga seluruh rangkaian haji dapat dijalani dengan aman dan optimal.