Liputan6.com, Jakarta - Penyakit kronis yang dulu identik dengan masyarakat lanjut usia (lansia), kini semakin banyak menyerang orang-orang berusia produktif. Pergeseran usia pasien penyakit kronis dirasakan pemilik klinik di Brebes, Jawa Tengah, Munaryo.
Dia, menjelaskan, selama belasan tahun menjalankan Klub Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), dahulu tidak ada satu pun pasien penyakit kronis berumur di bawah 40 tahun yang berobat ke kliniknya. Namun, seiring berjalannya waktu, kliniknya makin banyak dikunjungi oleh pasien usia produktif.
"Setiap bulan kami mengelola 400-450 pasien Prolanis diabetes melitus, hipertensi, dan jantung. Rata-rata usianya memang 40 tahun ke atas. Dalam lima tahun terakhir, semakin banyak pasien yang usianya di bawah 40 tahun. Bahkan, kini kami punya pasien hipertensi dan pasien diabetes melitus berusia di bawah 30 tahun," kata Munaryo dalam keterangan resmi BPJS Kesehatan pada Rabu, 13 Mei 2026.
Advertisement
Dari perspektif medis, Munaryo menyebut bahwa ada penyebab multifaktorial atas terjadinya pergeseran tren usia pasien penyakit kronis, salah satunya adalah akibat gaya hidup.
Pola makan generasi muda cenderung didominasi makanan cepat saji dan softdrink. Kebiasaan tersebut tidak diimbangi dengan aktivitas olahraga yang baik.
"Kebiasaan ini sudah merembet ke anak-anak kecil, sehingga saya pribadi memprediksi dalam 20 tahun mendatang tren penderita pasien kronis berusia muda bisa menjadi tinggi sekali. Kalau tidak segera ditangani, bahaya. Bisa menjadi bom waktu bagi kita," kata Munaryo.
"Ini menjadi tanggung jawab bersama antara tenaga kesehatan, pemerintah, BPJS Kesehatan, hingga pegiat media sosial untuk proaktif mengedukasi masyarakat,"Â tambahnya.
Rutin Beri Edukasi Soal Penyakit Kronis
Sebagai pihak dari salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang mempelopori Prolanis di wilayah Brebes dan sekitarnya, Munaryo menjelaskan bahwa kliniknya, Klinik Sehat Setia, rutin memberikan edukasi mengenai penyakit kronis.
Baik secara individu maupun secara kelompok kepada pasien Prolanis, setiap Minggu usai kegiatan senam bersama. Edukasi juga digalakkan Munaryo melalui grup Whatsapp dan media sosial, supaya lebih luas menjangkau masyarakat.Â
"Bagi pasien yang kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk datang ke klinik, kami punya layanan home visit, kami yang akan datang ke rumah pasien. Selain itu kami juga rutin mengecek data kunjungan peserta Prolanis, kami pantau jadwal kontrol peserta tersebut. Kalau terlambat kontrol, kita segera rangkul supaya kembali kontrol," ujar Munaryo.
Advertisement
Dokter FKTP Punya Peran Kunci
Munaryo menegaskan bahwa dokter FKTP memegang kunci penting dalam memberikan pemahaman kepada pasien penyakit kronis dan anggota keluarganya. Di samping itu, pasien penyakit kronis juga perlu mendapat dukungan dari dokter dan anggota keluarga pasien, supaya semangat hidupnya dapat terjaga.
"Banyak pasien kami yang mengasosiasikan penyakit kronis dengan kematian. Kami upayakan pendekatan sosiologis maupun dari sisi rohani agar pasien tidak pesimis, kami yakinkan bahwa penyakitnya bisa dikendalikan dengan hidup sehat. Pesan saya untuk masyarakat, kita bisa memilih untuk sehat. Sehat itu bukan takdir, tapi sesuatu yang kita tentukan sendiri. Jangan ditunda,"Â tambahnya.
Sebagai informasi, pada 2025, tercatat BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya Rp50,3 triliun untuk membiayai 59,9 kasus juta penyakit kronis seperti jantung, stroke, gagal ginjal, kanker, dan sebagainya.
Penyakit-penyakit tersebut tak jarang muncul sebagai komplikasi atas hipertensi dan diabetes melitus yang dialami seseorang. Padahal, penyakit kronis tersebut dapat dicegah sejak dini dengan menerapkan pola hidup sehat.
BPJS Kesehatan juga telah menginisiasi Program Prolanis Muda untuk menjawab tantangan meningkatnya penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes melitus.
Program ini ditujukan khusus bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berusia di bawah 45 tahun yang terdiagnosis mengidap hipertensi atau diabetes melitus.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, Prolanis Muda diharapkan mampu mendorong perubahan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan di kalangan generasi muda.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4919749/original/034086800_1723781524-000_36EC7XK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2892802/original/045596000_1566805482-20190826-Jokowi-sebut-kaltim-jadi-ibu-kota-baru-ANGGA-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8208033/original/056349800_1781066890-063_2280813255.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1908458/original/066821200_1766619000-WhatsApp_Image_2025-12-25_at_06.29.31.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/4256532/original/010472000_1670666232-f2dd32f3-ff54-4a00-b8d2-1f17e4dd5f30.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/262/original/004103300_1521089203-WhatsApp_Image_2018-03-15_at_12.45.09.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263744/original/028849200_1781996788-AP26171656106233.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452423/original/071248000_1782349365-neymar_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621093/original/089503900_1782612244-063_2283639746.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257797/original/022434900_1781257127-South_Africa_s_Themba_Zwane__11__receives_a_red_card.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262509/original/033331100_1781827688-063_2282269735.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257126/original/025840700_1781221894-AP26162777114808.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260379/original/084688000_1781589230-tj_verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259296/original/035877100_1781495343-_____________FIFAWorldCup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8621898/original/023575700_1782614127-063_2283622576.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540345/original/069396100_1774710516-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7008167/original/022426400_1779779906-dante__7_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6476564/original/087587000_1779337051-Cek.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723091/original/022901400_1705917470-000_34G49R7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5483163/original/034100900_1769336132-WhatsApp_Image_2026-01-25_at_13.29.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5474293/original/056129200_1768471482-Prof.Dr.dr.Wimpie_Pangkahila_memaparkan_pentingnya_hormon_bagi_kesehatan_dan_usia_fisiologis_pria..jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5466050/original/004096600_1767794605-Klinik.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5752635/original/052174200_1778653816-yohanes.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5775878/original/014422200_1778678726-Ketua_Peneliti_HCC__Dr._dr._Ray_Wagiu_Basrowi__MKK__FRSPH.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5770189/original/032930900_1778673305-Menteri_Kesehatan_RI__Budi_Gunadi_Sadikin_alias_BGS.jpg)