Bukan Saat Dewasa, Upaya Mencegah Hipertensi Dilakukan Sejak Lahir

Prevensi primordial adalah pencegahan penyakit termasuk hipertensi sebelum adanya faktor risiko.

Diterbitkan 18 Mei 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis saraf sekaligus Ketua Indonesian Society of Hypertension (InaSH), Eka Harmeiwaty mengatakan bahwa hipertensi bisa dicegah sejak anak lahir.

Pencegahan ini disebut sebagai primordial prevention (prevensi primordial) yakni pencegahan sebelum orang memiliki faktor risiko hipertensi. Pencegahan sejak usia dini menjadi penting lantaran satu dari tiga orang Indonesia mengalami hipertensi alias tekanan darah tinggi.

“Hipertensi menimbulkan komplikasi karena ada kerusakan pada sel endotel (lapisan terdalam pembuluh darah). Sel endotel kita sudah bisa mengalami kerusakan semenjak lahir sebetulnya. Jadi primordial prevention seharusnya dilakukan semenjak lahir,” ujar Eka kepada Kesehatan Liputan6.com dalam peringatan Hari Hipertensi Sedunia bersama Beurer di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Pencegahan sejak lahir bisa dilakukan dengan pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif supaya bayi tidak tumbuh dengan obesitas.

Di usia sekolah, edukasi pencegahan hipertensi lewat kebiasaan makan sehat juga bisa dilakukan. Menurut Eka, usia anak adalah masa-masa yang baik dalam menyerap edukasi.

“Anak-anak mudah menyerap edukasi, edukasi bisa berupa macam-macam, bisa berupa dongeng, kebetulan beberapa tahun lalu salah satu pengurus InaSH membuat komik dan sempat beredar tapi terbatas,” ujar Eka.

Hidupkan Kembali Kebiasaan Sehat di Sekolah

Eka juga menilai bahwa kebiasaan-kebiasaan sehat yang dulu sempat ada di lingkungan sekolah sepatutnya dihidupkan kembali untuk menjaga kesehatan anak. Misalnya, senam 30 menit setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar.

“Waktu saya SMP (Sekolah Menengah Pertama) setiap pagi ada senam pagi, 30 menit,” ujarnya.

Peran sekolah juga perlu diperkuat oleh peran orang tua. Dalam primordial prevention, ibu dan ayah perlu mengecek apa yang dimakan oleh anak. Terutama jika yang membuat makanan bukan orang tua sendiri melainkan pengasuh.

"Saya ngalamin sendiri, saya cek (makanan anak yang dibikin baby sitter) ternyata asin," ujarnya.

Eka menilai, prevensi primordial menjadi langkah yang baik untuk dilakukan mengingat angka hipertensi kian meningkat dari tahun ke tahun.

“Sekarang alat ukur ada, dokter banyak, obat hipertensi itu ada di mana-mana dan difasilitasi oleh Kemenkes (Kementerian Kesehatan) tapi kenapa hipertensi masih tinggi? Komplikasi masih menyedot biaya yang besar,” ujarnya.

Cek Tensi di Rumah

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Beurer Indonesia Aria Verdin mengamini bahwa pemeriksaan tensi mandiri di rumah adalah hal penting. Kehadiran tensimeter yang mudah digunakan dan memiliki hasil pengukuran akurat dapat membantu masyarakat memantau tekanan darah secara rutin.

"Sehingga masyarakat di Indonesia akan mudah untuk melakukan pengukuran sehari-hari secara rutin di rumah," ujar Aria.

Dia menambahkan, pihaknya juga kerap mengedukasi masyarakat terkait hipertensi melalui Instagram (IG) dan media sosial lainnya.