Liputan6.com, Jakarta - Bekas luka merupakan bagian dari proses penyembuhan tubuh setelah kulit mengalami cedera. Namun, bentuk dan tampilannya bisa berbeda pada setiap orang. Ada yang hanya meninggalkan garis tipis, berubah warna, tampak cekung, hingga tumbuh tebal dan menonjol seperti keloid.
Menurut konsultan senior National Skin Centre, Dr. Suzanne Cheng, salah satu faktor utama yang menentukan terbentuknya bekas luka adalah kedalaman cedera. "Semakin dalam luka mencapai dermis, sekitar 1 hingga 3 milimeter tergantung bagian tubuh, semakin besar kemungkinan terbentuknya bekas luka," ujarnya dikutip dari Channel News Asia pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Secara umum, tubuh membentuk jaringan baru, terutama kolagen, untuk menyatukan bagian kulit yang terluka dan mengisi jaringan yang rusak. Dalam kondisi tertentu, produksi kolagen dapat berlangsung secara berlebihan sehingga menghasilkan bekas luka yang menonjol.
Advertisement
Jenis Cedera Ikut Menentukan
Tidak semua luka memiliki risiko meninggalkan bekas yang sama. Luka dengan tepi tidak beraturan, cedera akibat benturan atau tekanan kuat, serta luka bakar cenderung lebih berisiko meninggalkan bekas dibandingkan sayatan operasi yang dibuat secara rapi.
Lokasi luka juga berpengaruh. Cheng mengatakan wajah umumnya dapat sembuh lebih baik karena memiliki suplai darah yang sangat baik. Sebaliknya, kaki, dada, dan bahu cenderung sembuh lebih lambat dan lebih mudah menghasilkan bekas luka yang terlihat.
"Wajah umumnya sembuh jauh lebih baik karena memiliki suplai darah yang sangat baik. Sebaliknya, area seperti kaki, dada, dan bahu cenderung sembuh lebih lambat dan lebih rentan terhadap bekas luka yang terlihat," tambah Cheng.
Selain itu, ketegangan pada kulit juga dapat memengaruhi proses pembentukan bekas luka. Luka yang berada di area yang terus mengalami tarikan atau peregangan, termasuk di sekitar persendian, dapat memiliki risiko lebih tinggi mengalami pembentukan bekas luka abnormal.
Warna dan Jenis Kulit Berpengaruh
Dokter kulit sekaligus kepala Eileen Tan Skin Clinic & Associates, Dr. Eileen Tan, mengatakan warna dan kondisi kulit juga berperan.
"Individu dengan jenis kulit lebih gelap lebih rentan mengalami bekas luka hiperpigmentasi," kata Tan.
Kulit yang kering dan mudah mengalami robekan juga dapat memengaruhi proses penyembuhan. Perubahan fisiologis, seperti menopause, turut dikaitkan dengan proses penyembuhan yang lebih lambat.
Menariknya, usia muda bukan berarti seseorang bebas dari risiko bekas luka. Menurut pendiri sekaligus direktur medis The Clifford Clinic, Dr. Gerard Ee, kulit yang lebih muda memang cenderung sembuh lebih aktif, tetapi juga lebih mudah menghasilkan kolagen secara berlebihan.
Keloid Berbeda dengan Bekas Luka Hipertrofik
Kondisi tersebut dapat menyebabkan bekas luka menonjol. Bekas luka hipertrofik tetap berada di dalam batas luka awal, sedangkan keloid dapat tumbuh melewati batas luka dan terus membesar.
"Kulit yang lebih muda sembuh lebih kuat, tetapi juga lebih rentan menghasilkan kolagen berlebihan," ujar Ee.
Keloid paling sering ditemukan pada usia 10 s.d 30 tahun. Kondisi ini juga dapat muncul setelah tindik telinga, vaksinasi BCG, atau jerawat, terutama pada orang yang memang memiliki kecenderungan membentuk keloid.
Oleh sebab itu, bentuk bekas luka bukan sekadar ditentukan oleh seberapa besar luka terlihat dari luar.
Kedalaman dan jenis cedera, lokasi luka, ketegangan kulit, warna kulit, usia, hingga respons tubuh dalam memproduksi kolagen ikut menentukan seperti apa bekas luka akhirnya terbentuk.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5173559/original/021886800_1742872977-cek_fakta_jemput.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4285001/original/066553900_1673179649-Target_Sektor_Wisata_2023-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3020798/original/090303500_1578969483-brian-patrick-tagalog-Zcl9rMwflmw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4732514/original/079872900_1706810203-imani-bahati-L1kLSwdclYQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328494/original/031691000_1787196472-Menteri_Kesehatan_RI_Budi_Gunadi_Sadikin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1946254/original/047589900_1519813898-Pesepak_Bola_Narkoba_02.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2397896/original/055165200_1541065562-photo-1524108878281-f9d6d7c09a3c.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328510/original/069995500_1787196736-WhatsApp_Image_2026-08-20_at_10.26.01_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3649887/original/029560100_1638364602-mandy-henry-2F0vQgzjFGA-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328322/original/070484000_1787182451-55472426250_7186ed369f_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314123/original/057131000_1785734767-Xanthos_sagitt_140518-0440_tdp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2961855/original/037397700_1573191624-wenyang-0HVwKQv-jmE-unsplash.jpg)