Bukan 'Superflu', Ini Varian Virus Influenza yang Dominan di Indonesia

Kemenkes mencatat tidak ada tambahan kasus 'superflu' sejak April 2026. Lalu, apa varian virus influenza yang mendominasi saat ini?

Diterbitkan 29 September 2026, 09:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa ada kenaikan kasus influenza di Indonesia sejak September 2026. Peningkatan tersebut sesuai dengan pola musiman yang terjadi setiap tahun.

"Dan memang di minggu ke-38 pada bulan September ini ada peningkatan, positivity rate menjadi 56%," tutur Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni.

Bila mengacu data tahun-tahun sebelumnya setelah memasuki minggu ke 39 dan 40 akan terjadi penurunan kasus influenza.

"Kita tentunya berharap bahwa setelah minggu ini terjadi penurunan, kita juga bisa lihat trend-trend sebelumnya, itu bahwa ketika sudah melampaui sekitar minggu 39, 40 itu trennya akan menurun," lanjut Andi dalam konferensi pers daring pada Senin (28/9/2026).

Andi mengatakann varian yang mendominasi di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09. Varian ini berbeda dengan influenza A(H3N2) subclade K yang belakangan ramai disebut masyarakat sebagai "superflu".

"Dan untuk kasus di Indonesia, yang predominan adalah influenza A(H1N1)pdm09. Influenza A(H3N2) subclade K justru kasusnya di Indonesia menurun drastis," terang Andi.

Menurut data, kasus influenza A(H3N2) subclade K hanya ditemukan 22 kasus sepanjang 2026 dan tidak ada catatan penambahan kasus sejak April. Angka ini jauh menurun dibandingkan 166 kasus pada 2025

Ia juga meluruskan penggunaa istilah 'superflu'. Menurutnya, 'super flu' bukan istilah resmi dalam nomenklatur influenza.

"Istilah 'superflu' tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K," terang Andi.

 

 

Mengenal Varian Influenza yang Tengah Beredar di Indonesia

Andi menjelaskan bahwa secara klinis tidak terdapat perbedaan signifikan antara infeksi influenza A(H1N1)pdm09 dan influenza A(H3N2) subclade K.

"Keduanya merupakan subtipe virus influenza A musiman yang menyerang saluran pernafasan terutama," jelas Andi menjawab pertanyaan Liputan6.com. 

Menurutnya, istilah 'super flu' dapat menimbulkan pemahaman yang keliru karena seolah-olah H3N2 subclade K merupakan jenis influenza dengan tingkat keparahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan influenza musiman lainnya.

"Meskipun varian H3N2 subclade K sering dijuluki masyarakat sebagai 'super flu' karena kemampuannya bermutasi dan menular dengan sangat cepat, data dari organisasi kesehatan dunia WHO dan Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tingkat keparahan intrinsik varian ini tetap serupa dengan flu musiman lainnya," ujar Andi.

Di kesempatan yang berbeda, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K) dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI mengingatkan bahwa influenza bukanlah common cold. Influenza bisa menimbulkan kondisi yang lebih parah.

Berikut gejala influenza A:

  • Demam tinggi (di atas 38 derajat Celsius)
  • Batuk kering
  • Tenggorokan sakit
  • Badan nyeri
  • Pusing
  • Hidung berair
  • Lemas intens
  • Sulit napas.

"Ingat yang namanya tanda dan gejala influenza ini enggak mesti semuanya ada. Kadang ada yang demam dengan muntah-muntah, diare. Tapi yang biasanya selalu ada itu demam, sakit kepala dan sakit badan," kata Guru Besar dalam Bidang Infeksi dan Penyakit Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran itu.

Anggi juga memaparkan bahwa infeksi virus influenza pada anak dengan faktor risiko bisa menimbulkan kondisi yang berat. “Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati," tuturnya.

Â