Menteri Wihaji: Gen Z Harus Punya Bekal Hadapi Era AI

Kehadiran AI merupakan peluang yang harus dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas dan inovasi, bukan membuat manusia kehilangan kendali.

Diterbitkan 19 Juni 2026, 18:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Generasi Z alias Gen Z di era digital tidak hanya menghadapi masalah akademik atau pergaulan. Arus informasi tanpa batas, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), dan dinamika sosial di ruang digital menuntut remaja memiliki kemampuan berpikir kritis.

Menurut Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, gen Z perlu membekali diri dengan literasi digital yang kuat serta karakter yang kokoh.

Wihaji menilai, pesatnya perkembangan teknologi telah melahirkan peradaban baru yang tidak bisa dihindari. Kehadiran AI adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas dan inovasi — bukan sebaliknya, membuat manusia kehilangan kendali atas hidupnya. Maka dari itu, penguatan kesehatan mental, kemampuan beradaptasi, dan daya lenting menjadi bekal penting agar remaja Indonesia tetap tumbuh dan unggul di tengah perubahan.

Wihaji menekankan bahwa tugas Kemendukbangga adalah memastikan penduduk usia produktif memperoleh penguatan kualitas sumber daya manusia sejak dini hingga dewasa.

Ia juga mengingatkan para anggota Genre (Generasi Berencana) agar tidak pernah lelah mencintai Indonesia. Menurutnya, generasi muda perlu dibekali “senjata” berupa ilmu pengetahuan, pedoman, dan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi pegangan dalam menentukan arah masa depan.

“Mereka perlu pegangan supaya nanti terarah ke depan, mengetahui secara komprehensif. Jadi, lebih siap hidup,” katanya mengutip keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).

3 Modal yang Harus Dimiliki Anak Muda

Guna membekali Gen Z, Kemendukbangga punya program Genre yang menjadi wadah ekspresi dan edukasi para remaja. Ketua Forum Genre Indonesia, I Putu Arya Aditia Utama menegaskan bahwa cita-cita Indonesia Emas bukan sesuatu yang jatuh dari langit — ia dibangun di atas tiga modal dasar yang harus dimiliki setiap anak muda.

"Indonesia Emas itu membutuhkan tiga modal dasar, yakni visi, aksi, dan frekuensi," ujarnya.

Menurutnya, jutaan remaja Indonesia perlu bergerak dalam satu arah untuk mewujudkan Indonesia yang maju, sehat, dan berdaya.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, penduduk Indonesia didominasi oleh generasi muda — Gen Z, Milenial, dan Post-Gen Z — yang secara kolektif mencapai 68,92 persen dari total populasi 284,67 juta jiwa.

Angka ini menempatkan Indonesia dalam posisi strategis menghadapi bonus demografi, sekaligus menjadi pengingat bahwa investasi pada kualitas remaja hari ini adalah investasi langsung pada nasib bangsa di masa depan.

Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, generasi muda Indonesia dituntut bukan sekadar hadir, tetapi tangguh dan siap memimpin.

"Untuk ke depan kita butuh resilience (daya lenting), bagaimana anak-anak remaja kita punya kesiapan mental untuk bangkit," tutup Wihaji.