Anak Hidup di Dunia Nyata dan Digital, Ini Pesan Psikolog UI

Perlindungan anak di dunia digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai.

Diterbitkan 06 Juli 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim mengatakan anak-anak saat ini hidup di dua dunia sekaligus, yakni dunia nyata dan dunia digital.

Menurutnya, dunia digital menawarkan berbagai bentuk hiburan yang memberikan kepuasan secara instan sehingga membuat anak lebih tertarik menghabiskan waktunya di depan gawai.

"Dunia digital memberikan banyak reward secara instan, sehingga anak lebih mudah tertarik dan akhirnya menghabiskan sebagian besar waktunya di sana," ujar Rose Mini.

Anak usia 0-6 tahun berada pada fase perkembangan otak yang sangat pesat. Pada masa ini, mereka mudah menyerap berbagai informasi tanpa mampu menyaringnya, sehingga lebih rentan mengalami gangguan konsentrasi dan mudah terdistraksi.

Sementara itu, anak usia 7-12 tahun mulai aktif bersosialisasi dan mengeksplorasi dunia digital. Namun, pada rentang usia tersebut kemampuan berpikir kritis dan pengendalian emosi belum berkembang secara optimal. Akibatnya, anak lebih mudah terpengaruh oleh berbagai konten yang ditemui di internet.

Maka dari itu, Rose Mini menekankan bahwa perlindungan anak di dunia digital tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan gawai. Menurutnya, anak membutuhkan pendampingan dari orangtua dan guru (co-regulation), pembelajaran sosial dan emosional, serta aturan yang jelas dalam menggunakan perangkat digital.

Ia menambahkan, ketika orang tua atau guru membatasi penggunaan gadget, anak juga perlu diberikan alternatif kegiatan lain, seperti bermain di luar rumah, berolahraga, atau melakukan aktivitas menyenangkan bersama keluarga.

"Melarang anak menggunakan gadget tanpa memberikan kegiatan pengganti justru akan membuat anak merasa kehilangan dan sulit menerima aturan tersebut," katanya seperti mengutip Antara.

 

 

Pendidikan Karakter dan Moral Sejak Dini

Selain itu, Rose Mini menekankan pentingnya pendidikan karakter dan moral sejak dini. Empati, kemampuan mengendalikan diri, serta sikap menghargai orang lain perlu terus dilatih agar anak mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk, termasuk saat berinteraksi di ruang digital.

Ia berharap sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter anak sehingga mereka mampu menghadapi tantangan dunia digital secara sehat, bijak, dan bertanggung jawab.