Bukan Sekadar Capek, Kenali 3 Gejala Burnout pada Pekerja

Salah satu gejala burnout yakni tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya karena sudah terlalu lelah.

Diterbitkan 05 Juni 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional yang ekstrem akibat stres berkepanjangan. Kondisi ini sering dipicu oleh tekanan pekerjaan yang berlebihan dan tidak terkelola dengan baik, sehingga menyebabkan hilangnya motivasi dan penurunan performa kerja. 

Tanda seorang pekerja burnout biasanya terbagi menjadi tiga gejala besar seperti disampaikan dokter spesialis kedokteran jiwa konsultan, Adhitya S Ramadianto. Pertama, emotional exhaustion atau lelah secara emosional. Kondisi ini membuat seseorang merasa energinya seperti terkuras begitu terbangun dan mengingat pekerjaan yang menanti.

"Enggak punya tenaga, enggak mau bangun, mendingan merem lagi. Sampai di tempat kerja sudah membayangkan kapan bisa pulang," kata Adhitya.

Rasa lelah tersebut tidak proporsional dengan beban kerja alias seseorang merasa lebih lelah dibandingkan dengan beban kerja yang dia hadapi.

Kedua, kemunculan depersonalisasi atau kondisi ketika seseorang tidak lagi hadir sepenuhnya secara mental dalam pekerjaannya karena sudah terlalu lelah. Gejala itu biasanya lebih terasa pada profesi yang banyak berinteraksi dengan orang lain, seperti tenaga kesehatan, petugas layanan konsumen, dan pekerjaan berbasis jasa lainnya.

Akibat kelelahan tersebut, seseorang cenderung tidak sepenuhnya hadir, di mana dalam hal ini menganggap melihat orang yang dilayaninya hanya sebagai bagian dari tugas yang harus segera diselesaikan. Keluaran dari rasa lelah itu bisa saja berupa menjadi kurang ramah.

"Mungkin bukan karena berniat jahat, tapi, energinya sudah habis, cuma tersisa untuk mengerjakan tugas pekerjaannya sebisanya,” kata Adhitya mengutip Antara. 

 

Ketiga, Lelah Berkepanjangan

Ketiga, yaitu gejala kelelahan yang berkepanjangan membuat pekerja cenderung hanya fokus mengejarkan tugas seperlunya. Setelah pekerjaan selesai, pekerja kerap tidak merasakan adanya pencapaian atau kepuasan atas hasil kerja yang dilakukan.

Kondisi tersebut dikenal sebagai lack of personal achievement, tidak ada pencapaian pribadi, yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman yang semakin besar seiring waktu.

“Kita sudah capai-capai kerja sekian jam di kantor, sekian jam di tempat kerja, tapi, kok, pulang-pulang cuma dapat capainya saja, tidak merasa mendapatkan sesuatu, baik itu hadiah pekerjaannya, uang, kompensasi finansial ataupun tadi, rasa mencapai sesuatu," kata Adhitya menjelaskan.

 

Mengatasi Burnout

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah burnout dalam pekerjaan dengan menerapkan work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sosial) dan quiet living (cara hidup yang memprioritaskan ketenangan).

Efektivitas pemulihan sangat bergantung kepada metode yang dipilih dan masalah yang mendasari. Misalnya, jika seseorang baru melewati periode kerja yang sangat padat, maka mengambil waktu untuk liburan bisa menjadi pilihan untuk memulihkan energi dan beristirahat.

Tapi, jika burnout muncul karena ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan keterampilan yang dimiliki, maka solusi yang diperlukan bukan sekadar beristirahat.

Seseorang perlu mengembangkan atau mempelajari kemampuan yang dibutuhkan agar dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif atau bahkan bernegosiasi dengan perusahaan mengenai kompetensi yang dimiliki.