Liputan6.com, Jakarta - Anak bungsu sering dianggap memiliki karakter berbeda dibandingkan saudara-saudaranya. Mereka kerap dikaitkan dengan sifat lebih berani mengambil risiko, ceria, hingga dianggap lebih manja. Namun, benarkah urutan kelahiran menentukan kepribadian seseorang?
Menjadi anak bungsu memiliki sisi positif sekaligus tantangan. Mereka sering dikenal sebagai anggota keluarga yang ceria dan santai karena mendapat perhatian serta dukungan dari orang tua maupun kakak. Kondisi ini dapat membantu membangun rasa percaya diri, kreativitas, dan keterampilan sosial yang berguna hingga dewasa, mengutip Women's Health Australia, Jumat (21/8/2026).
Anak bungsu juga biasanya memiliki ruang lebih besar untuk mengekspresikan diri. Hal ini dapat mendorong mereka mengembangkan pola pikir kreatif dalam memecahkan masalah serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi sosial.
Advertisement
Namun, menjadi anak bungsu tidak selalu mudah. Label sebagai 'anak kesayangan' atau 'anak manja' dapat membuat mereka dianggap selalu bergantung kepada orang lain.
Jika terus melekat, stereotipe tersebut berpotensi menghambat kemandirian dan inisiatif anak, baik dalam kehidupan pribadi maupun lingkungan sosial.
Membandingkan diri dengan kakak juga dapat menjadi tantangan. Ketika melihat pencapaian saudara-saudaranya, anak bungsu bisa merasa kurang mampu atau tertinggal.
Di sisi lain, anak bungsu kerap dianggap lebih berani mengambil risiko. Perilaku ini terkadang dikaitkan dengan keinginan untuk membuktikan kemampuan diri atau melepaskan diri dari batasan yang ada dalam keluarga.
Apakah Urutan Lahir Berpengaruh?
Verywell Mind menyebut istilah youngest child syndrome atau sindrom anak bungsu. Namun, istilah tersebut bukan diagnosis atau kondisi psikologis resmi, melainkan gambaran mengenai sejumlah karakteristik yang sering dikaitkan dengan anak terakhir dalam keluarga.
Penelitian mengenai urutan kelahiran memang menemukan sejumlah perbedaan, tetapi pengaruhnya terhadap kepribadian tidak selalu besar.
Psikolog kepribadian dari Leipzig University, Jerman, Julia Rohrer, mengatakan, tidak terdapat perbedaan sistematis dalam sifat kepribadian utama antara anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu.
Meski demikian, beberapa penelitian menemukan karakteristik tertentu pada anak bungsu. Salah satunya menunjukkan bahwa anak bungsu memiliki tingkat masalah kesehatan mental paling rendah dalam beberapa kategori, termasuk masalah emosional, perilaku, dan perhatian.
Namun, karakteristik tersebut tidak selalu disebabkan oleh urutan kelahiran. Rohrer menjelaskan bahwa perbedaan yang terlihat dalam sebuah keluarga juga dapat berkaitan dengan usia.
Anak bungsu memang merupakan anggota keluarga paling muda sehingga secara alamiah dapat menunjukkan perilaku yang lebih 'kekanak-kanakan'.
Perbedaan tersebut mungkin tetap terlihat dalam dinamika keluarga, tetapi biasanya dapat berkurang seiring bertambahnya usia.
"Kita tahu bahwa kepribadian itu berkembang seiring waktu, dan dalam sebuah keluarga, anak bungsu bisa jadi memiliki kepribadian yang 'paling kurang matang' semata-mata karena usianya yang lebih muda," ujar Rohrer.
Pola Asuh Orang Tua
Psikiater anak dan remaja, Louis J. Kraus, menjelaskan, orang tua biasanya lebih protektif terhadap anak pertama. Ketika anak berikutnya lahir, pola pengasuhan dapat menjadi lebih santai.
Dalam keluarga dengan lebih dari dua anak, anak sulung juga terkadang mendapat tanggung jawab tambahan untuk membantu mengurus adik-adiknya.
Sementara itu, anak bungsu dapat memperoleh perhatian lebih sedikit saat masih kecil karena harus berbagi dengan kakak. Namun, setelah kakak-kakaknya beranjak dewasa dan meninggalkan rumah, anak bungsu justru bisa kembali mendapatkan lebih banyak perhatian dari orang tua.
Oleh sebab itu, setiap keluarga memiliki dinamika yang berbeda. Urutan kelahiran bukan satu-satunya faktor yang membentuk kepribadian seseorang. Faktor genetik, pola pengasuhan, lingkungan, usia, dan pengalaman pribadi juga turut berperan dalam perkembangan seseorang.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4712284/original/099342900_1704930645-cek_fakta_stiker_atm.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321954/original/029124100_1786512297-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-12T122336.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329565/original/022781600_1787284896-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-21T105934.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3513686/original/037618500_1626515164-xavier-mouton-photographie-MRWHSKimBJk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3224984/original/081641000_1598941095-girl-drinking-milk-from-bottle_23-2147824132.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136421/original/096715600_1739860623-full-shot-woman-stairs.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329934/original/000561800_1787304676-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_16.27.13.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259107/original/029910400_1781453221-WhatsApp_Image_2026-06-14_at_23.00.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4596813/original/070137400_1696323412-ivonne-lecou-9nJ6Y-ZHC0Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2400624/original/052965400_1541412677-Raw_Pixel.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5364166/original/001813400_1759043139-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4605932/original/093592600_1696943429-igor-omilaev-FHgWFzDDAOs-unsplash.jpg)