Anak Sering Tantrum, Kapan Masih Normal dan Perlu Diwaspadai?

Tantrum merupakan kondisi yang umum terjadi pada anak, orang tua perlu memerhatikan kondisi-kondisi ini.

Diterbitkan 30 Juli 2026, 09:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tantrum sering membuat orangtua khawatir, terutama ketika anak menangis, berteriak, hingga berguling-guling di ruang publik. Tidak sedikit pula yang bertanya-tanya apakah kondisi tersebut merupakan bagian dari perkembangan normal atau justru menjadi tanda awal gangguan tumbuh kembang.

Dokter spesialis anak Jessica Sugiharto menjelaskan bahwa pada dasarnya tantrum merupakan proses normal ketika anak sedang belajar mengenali dan mengatur emosinya.

"Tantrum itu adalah suatu proses anak untuk menyampaikan emosi. Jadi anak itu belum bisa meregulasi emosi," ujar Jessica dalam sesi wawancara di acara peluncuran area Mom and Child Siloam Hospitals TB Simatupang Jakarta pada Rabu (29/7/2026).

Jessica mengatakan kemampuan anak dalam mengelola emosi masih berkembang, terutama pada kelompok di atas usia satu tahun. Pada fase tersebut, anak kerap memiliki keinginan yang besar tetapi belum mampu mengungkapkannya melalui kata-kata.

Hasilnya, ketika keinginannya tidak terpenuhi atau ia merasa frustrasi, anak dapat meluapkan emosinya melalui marah, menangis, berteriak, dan tantrum.

Tantrum umumnya memiliki penyebab atau pemicu yang jelas. Misalnya, anak ingin melakukan sesuatu atau pergi ke suatu titik, tetapi tidak diperbolehkan oleh orangtua.

"Misalnya dia ingin ke mana, mamanya nggak nurutin, nangis anaknya, marah, guling-guling seperti itu," jelasnya.

Ketika menghadapi anak tantrum maka langkah pertama yang perlu dilakukan orangtua memberikan waktu agar anak dapat menenangkan diri. Jangan memarahi anak pada kondisi tersebut. 

Setelah kondisi anak mulai tenang, orang tua dapat mencoba mencari tahu penyebab munculnya tantrum tersebut.

"Kita identifikasi kenapa sih anaknya jadi seperti gitu? Apakah dia sedih, marah, kesel, atau ada penyebab tertentu," tutur dokter lulusan  pendidikan Kedokteran Spesialis Anak Universitas Udayana itu. 

Beda Tantrum dengan Gejala Autisme atau ADHD

 

Tantrum merupakan kondisi yang umum terjadi pada anak tapi Jessica mengingatkan ayah dan ibu tetap perlu memperhatikan pola perilaku mereka.

Menurutnya, salah satu perbedaan utama antara tantrum biasa dengan gejala autisme maupun ADHD terletak pada adanya pemicu.

"Kalau ADHD atau autisme itu biasanya tidak ada pencetus, dia akan seperti itu," ujar Jessica.

Selain itu, terdapat beberapa tanda lain yang perlu diperhatikan. Pada anak uang diduga ADHD dan autisme, misalnya, anak cenderung hiperaktif, tidak bisa berhenti gerak, tidak bisa diam, dan sulit mengikuti arahan.

Sementara itu, orangtua dapat memperhatikan kualitas kontak mata, kemampuan mengemukakan pemikiran, serta interaksinya di lingkungan sosial sang anak.

Jessica menjelaskan bahwa pada usia sekitar 1,5 hingga 2 tahun, anak umumnya sudah mulai mampu mengungkapkan apa yang diinginkan. Tetapi, pada anak dengan gangguan perkembangan tertentu, kemampuan tersebut bisa mengalami hambatan.

"Itu biasanya sulit untuk mengungkapkan keinginan, kontak matanya tidak kuat, dia menarik diri dari lingkungan tempat bermainnya. Itu bisa menjadi salah satu gejala dari ADHD atau autisme," tuturnya.

Meski demikian, Jessica mengingatkan bahwa tanda-tanda tersebut tidak dapat dijadikan dasar diagnosis. Orangtua yang menemukan gejala serupa pada anak sebaiknya berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Â