Autoimun Lebih Banyak Menyerang Wanita, Faktor Hormon hingga Genetik Berperan

Wanita memiliki kecenderungan lebih terhadap gangguan autoimun karena faktor genetik, hormon estrogen dan progesteron, serta faktor imunologis.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 04 Juli 2026, 18:00 WIB
ilustrasi perempuan alami autoimun /copyright freepik.com/freepik

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit autoimun dapat menyerang siapa saja, tetapi wanita memiliki risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan pria. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 80 persen penderita autoimun adalah wanita.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor menjelaskan, penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun tidak sengaja menyerang sel-sel sehat karena salah mengenali antigen. Akibatnya, terbentuk autoantibodi yang memicu peradangan dan dapat merusak organ-organ tubuh.

“Secara umum, gejala autoimun ini sering kali mencakup rasa sangat lelah, nyeri sendi atau otot, ruam kulit atau perubahan warna kulit, demam ringan yang muncul berulang, gangguan pencernaan seperti diare atau nyeri perut, serta penurunan berat badan tanpa alasan yang jelas,” jelas Ronny. 

Berdasarkan penelitian, Ronny mengungkapkan bahwa wanita memiliki kecenderungan lebih terhadap gangguan autoimun karena faktor genetik, hormon estrogen dan progesteron, serta faktor imunologis. Meskipun sistem imun yang kuat sangat penting untuk melindungi kehamilan, sistem ini juga bisa membuat tubuh lebih rentan terhadap serangan dari dalam diri sendiri.

“Autoimun tidak langsung diwariskan kepada anak, tetapi ada predisposisi genetik yang meningkatkan risiko mereka, selain faktor lingkungan. Penyakit autoimun muncul dari kombinasi genetik dan lingkungan, bukan hanya karena kesalahan gen yang diwariskan,” kata Ronny.

Dalam proses interaksi antara genetik dan lingkungan, Ronny menjelaskan bahwa gen yang rentan tidak selalu aktif. Lingkungan dapat berperan besar dalam mengaktifkan atau menonaktifkan gen melalui mekanisme epigenetik, seperti metilasi deoxyribonucleic acid (DNA). 

“Sebagai contoh, seseorang yang memiliki gen HLA tertentu mungkin tidak akan sakit tanpa adanya infeksi yang memicu. Begitu pula, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental,” jelasnya.

 

Jalani Gaya Hidup Sehat

Penyakit autoimun sangat beragam, lebih dari 100 jenis. Beberapa yang dikenal meliputi rheumatoid arthritis, lupus, myositis, psoriasis, vitiligo, dan skleroderma. Pada sistem pencernaan terdapat penyakit crohn, celiac, dan kolitis ulseratif. Pada gangguan hormonal terdapat diabetes tipe 1, hashimoto, dan graves. Gangguan saraf meliputi multiple sclerosis dan myasthenia gravis.  

Bila seseorang didiagnosis dengan penyakit autoimun maka pengobatan jangka panjagn dilakukan. Selain itu penting juga untuk mengelola gaya hidup serta mendapatkan dukungan psikososial.

Ronny menyarankan untuk berkonsultasi secara rutin dengan dokter reumatologi dan imunologi. Berdasarkan diagnosis, pengobatan dapat meliputi NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs), kortikosteroid, imunomodulator, atau terapi khusus seperti insulin untuk diabetes tipe 1. 

“Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Selain itu, langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari,” katanya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya