Vaksin Disebut Picu Alergi dan Autoimun, Ini Jawaban Tegas IDAI!

IDAI bongkar fakta medis soal vaksin yang kerap dituding sebabkan alergi dan autoimun. Ini penjelasan lengkapnya.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mitos seputar vaksin untuk anak kerap menyebar di tengah masyarakat. Salah satu anggapan yang ditemukan di lapangan adalah vaksinasi dapat membuat anak idap alergi dan autoimun di kemudian hari.

Menanggapi hal ini, dokter spesialis anak Rodman Tarigan mengatakan bahwa hingga kini tidak ada bukti soal anggapan tersebut.

"Tidak ada bukti hubungan antara vaksinasi dengan penyakit alergi, autoimun, atau gangguan pernapasan di kemudian hari," kata Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut dalam temu media secara daring (dalam jaringan) pada Selasa, 5 Mei 2026.

Sebaliknya, vaksin melatih sistem imun untuk mengenali antigen tertentu, tetapi tidak mengubah cara kerjanya.

Sebagian orang juga menganggap bahwa tidak apa-apa jika anak tidak mendapatkan vaksinasi. Mereka beralasan, banyak orang yang tidak diimunisasi di masa lalu tapi tetap bisa hidup sehat.

Padahal, sebelum vaksin campak diperkenalkan, lebih dari 90 persen orang terinfeksi bahkan sebelum usia 10 tahun.

"Hingga 1 dari 1.000 kasus campak berakibat fatal. Banyak penyintas mengalami dampak serius dan jangka panjang," ujarnya.

Gegara Bias Kognitif

Rodman, menambahkan, maraknya hoaks soal vaksin tak lepas dari bias kognitif. Ini adalah kecenderungan sistematis dalam cara seseorang berpikir yang membuat penilaian atau keputusan menjadi tidak sepenuhnya rasional atau objektif.

Dalam vaksinasi, bias ini dapat menyebabkan masyarakat melebih-lebihkan risiko imunisasi dan meremehkan risiko penyakit.

Bias kognitif yang sering ditemukan yakni:

  • Bias Heuristik: Satu kisah mengerikan akan memiliki bobot yang lebih besar dari ribuan laporan keamanan.
  • Bias Konfirmasi: Individu akan mencari laporan yang sesuai dengan keyakinan mereka sebelumnya.
  • Bias Omisi: ketakutan berlebih akan munculnya efek samping vaksin sehingga mengabaikan risiko terjangkit penyakit.
  • Faktor Penolakan: Meremehkan risiko penyakit.
  • Bias Optimistik: Keyakinan "itu tidak akan terjadi padaku".
  • Bias Natural: Preferensi akan hal-hal yang bersifat "alami".

"Untuk itu, diperlukan komunikasi dengan pendekatan yang personal dalam edukasi orang tua," pungkasnya.