Petunjuk Baru di Balik Tingginya Kasus Autoimun pada Perempuan

Studi terbaru mengungkap petunjuk baru yang diduga membuat perempuan lebih rentan terkena autoimun.

Diterbitkan 13 Juli 2026, 14:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penyakit autoimun diketahui lebih sering menyerang perempuan dibandingkan laki-laki. Sebuah studi baru yang menganalisis lebih dari 1,25 juta sel kekebalan tubuh mengungkap penjelasan biologis yang diduga menjadi penyebabnya, mengutip laman Gavi, Minggu (12/7/2026).

Sebagai gambaran, jumlah perempuan yang mengidap multiple sclerosis mencapai tiga kali lebih banyak dibandingkan laki-laki. Pada lupus, perbandingannya bahkan mencapai sembilan perempuan untuk setiap satu laki-laki yang mengidap penyakit tersebut.

Selama ini, para ilmuwan menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan kromosom seks, hormon seks, dan cara kerja sel kekebalan tubuh. Namun, mekanisme biologis pada tingkat seluler belum sepenuhnya dipahami.

Penelitian yang dipublikasikan dalam The American Journal of Human Genetics pada Mei 2026 menunjukkan bahwa sel kekebalan tubuh perempuan memiliki aktivitas genetik yang lebih tinggi dalam memicu peradangan dibandingkan laki-laki.

Kondisi ini membuat tubuh perempuan lebih cepat melawan infeksi, tetapi juga meningkatkan risiko sistem imun keliru menyerang jaringan tubuh sendiri.

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan dari Garvan Institute of Medical Research dan University of New South Wales, Australia, menganalisis lebih dari 1,25 juta sel kekebalan tubuh dari 982 partisipan, terdiri atas 564 perempuan dan 418 laki-laki, menggunakan teknologi single-cell RNA sequencing.

Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar gen yang berperan dalam proses peradangan lebih aktif pada perempuan, termasuk sejumlah gen yang sebelumnya telah dikaitkan dengan penyakit lupus.

"Setelah menunjukkan bahwa gen-gen yang lebih aktif pada perempuan sangat terkonsentrasi pada jalur peradangan, kini kami memiliki dasar biologis tambahan mengenai alasan sistem kekebalan tubuh perempuan lebih rentan keliru menyerang jaringan tubuh sendiri," ujar salah satu penulis studi sekaligus ahli bioinformatika di University of New South Wales, Australia, Sara Ballouz.

Peneliti juga menemukan bahwa perempuan memiliki lebih banyak sel B dan sel T CD4 naif, yaitu sel imun yang berperan dalam pembentukan antibodi. Menariknya, kedua jenis sel tersebut juga diketahui berperan dalam perkembangan penyakit autoimun.

 

Kenapa Bukan Laki-Laki?

Sebaliknya, laki-laki cenderung memiliki lebih banyak sel imun bawaan yang berfungsi sebagai garis pertahanan pertama terhadap infeksi. Perbedaan ini membuat sistem imun perempuan dinilai lebih siap memicu respons peradangan, bahkan sebelum tubuh menghadapi ancaman.

"Meskipun profil kekebalan tubuh yang sangat reaktif ini memberikan keuntungan bagi perempuan dalam melawan infeksi virus, hal ini disertai dengan pertukaran biologis, kerentanan yang lebih tinggi terhadap penyakit autoimun," kata Ballouz.

Di sisi lain, sistem imun yang lebih aktif juga memiliki manfaat. Menurut peneliti, temuan ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan terapi penyakit autoimun yang lebih tepat sasaran.

Saat ini, pengobatan penyakit autoimun umumnya masih menggunakan pendekatan yang sama untuk semua pasien.

Dengan memahami perbedaan biologis antara perempuan dan laki-laki, terapi di masa depan diharapkan dapat disesuaikan dengan karakteristik sistem imun masing-masing individu.

Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi lanjutan masih diperlukan. Pasalnya, penelitian ini hanya mengamati kondisi dasar sel imun ketika tubuh tidak sedang mengalami infeksi maupun perubahan hormon.

"Temuan kami menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh perlu dipelajari dengan mempertimbangkan faktor jenis kelamin. Banyak penelitian masih mengabaikan perbedaan tersebut, sehingga hal ini dapat membatasi pemahaman kita mengenai penyakit dan menimbulkan bias dalam pilihan pengobatan," ujar salah satu penulis studi dari Garvan Institute of Medical Research, Australia, Seyhan Yazar.