Punya Autoimun? Hindari 3 Hal Ini agar Gejala Tak Mudah Kambuh

Salah satu pemicu autoimun menunjukkan gejala adalah stres.

Diterbitkan 28 Juli 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Autoimun merupakan kondisi ketika sistem kekebalan tubuh keliru menyerang sel dan jaringan tubuh sendiri. Meski penyakit ini tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, gejalanya dapat dikendalikan dengan menghindari berbagai faktor pemicu.

Pakar Reumatologi, Internis, dan Herbal dari FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Nyoman Kertia, SpPD-KR, mengungkapkan ada tiga faktor utama yang perlu menjadi perhatian orang dengan autoimun agar tidak mudah kambuh. 

1. Kelelahan

Meskipun kondisi pasien sudah membaik dan hasil pemeriksaannya bagus, harus menyadari bahwa dirinya memiliki penyakit autoimun. Oleh karena itu, aktivitas sehari-hari harus memiliki batas agar tidak kelelahan. Misalnya, menjaga jam tidur dan tidak memaksakan diri bekerja hingga kelelahan.

2. Stres

Stres juga menjadi salah satu pemicu yang paling sering menyebabkan gejala autoimun memburuk. Ia pun menganjurkan pasiennya untuk belajar mengelola tekanan psikologis dan tidak terus-menerus memikirkan penyakit yang dideritanya.

"Ini memang tidak mudah dihindari, tetapi saya selalu mengatakan kepada pasien, mulai sekarang jangan terlalu memikirkan penyakitmu. Serahkan urusan pengobatan kepada saya sebagai dokter," kata Nyoman mengutip laman UGM, Selasa (28/7/2026).

3. Paparan Sinar Matahari Berlebihan

Pemicu berikutnya adalah paparan sinar matahari yang berlebihan. Nyoman menegaskan penyandang autoimun bukan berarti tidak boleh beraktivitas di luar ruangan, tetapi sebaiknya membatasi paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama.

Jika harus beraktivitas di luar, ia menyarankan menggunakan pelindung seperti payung atau tabir surya untuk mengurangi risiko kekambuhan.

"Menurut saya, tiga hal itulah yang paling penting, jangan terlalu lelah, jangan terlalu stres, dan hindari paparan sinar matahari yang berlebihan," ujarnya.

Tantangan Penanganan Penyakit Autoimun

Selama menjadi dokter yang telah banyak menangani kasus autoimun, ia mengungkapkan kerap mendapati pasien yang yang berhenti berobat karena merasa sudah sembuh.

“Ada pasien yang merasa sudah sehat setelah minum obat, lalu menganggap penyakitnya sudah sembuh sehingga berhenti berobat," katanya. 

Lalu, ada juga pasien yang usai mengetahui mengalami autoimun mengalami masalah mental dan merasa hidupnya tinggal sebentar lagi. "Kedua kondisi tersebut sama-sama menjadi tantangan dalam penanganan pasien,” terangnya.

Ia pun berpesan hal penting dalam menghadapi hidup ini adalah tenang. Apapun pekerjaan yang dilakukan, usahakan untuk menikmatinya.

“Ketika seseorang terus-menerus menjalani sesuatu yang tidak disukai, energinya akan terkuras dua kali. Pertama, untuk melawan perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaannya, dan kedua untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri,” tuturnya.

Tantangan lainnya yakni penggunaan obat-obatan imunosupresan. Obat ini bekerja dengan menekan sistem kekebalan tubuh agar tidak lagi menyerang organ tubuh sendiri. Di sisi lain, sistem imun juga berfungsi melindungi tubuh dari bakteri, virus, dan berbagai kuman penyebab penyakit.

“Menurut saya, pendekatan yang ideal bukan sekadar menekan sistem imun, melainkan mengembalikan sistem imun agar mampu mengenali mana yang merupakan bagian tubuh sendiri dan mana yang merupakan benda asing,” ungkap Nyoman.

Keresahan tersebut yang menariknya untuk mengembangkan obat herbal. Selama ini pengobatan autoimun banyak menggunakan obat-obatan kimia yang bekerja menekan sistem imun. Obat-obatan tersebut memang diperlukan, tetapi juga memiliki berbagai efek samping sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan lain.

“Karena itulah saya tertarik mengembangkan penelitian mengenai obat herbal. Harapannya, di masa depan dapat ditemukan terapi yang mampu mengembalikan fungsi sistem imun menjadi normal, bukan hanya menekannya,” tuturnya.