Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menargetkan pembenahan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan selesai pada 5 Agustus 2026 mendatang.
Dia menjelaskan, pembenahan program MBG tersebut mencakup penetapan sasaran penerima, standar menu bergizi, percepatan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah dengan angka stunting tinggi, hingga riset untuk mengukur dampak program.
Advertisement
Menurut Budi, sebelum 5 Agustus 2026, Kemenkes bersama Badan Gizi Nasional (BGN) bakal duduk bersama dengan para ahli gizi terkemuka di Indonesia.
"Sebelum 5 Agustus, Kementerian Kesehatan dan BGN akan duduk bersama dengan ahli-ahli gizi terkemuka Indonesia. Sudah ada drafnya di Kementerian Kesehatan," ujar Menkes Budi usai mengikuti Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Tingkat Menteri Penyelenggaraan Program MBG di Kantor Kemenko Pangan, dikutip Kamis (30/7/2026).
Dua Fokus Utama Pembenahan MBG
Menkes menjelaskan ada dua fokus utama dalam pembenahan program ini. Pertama, melakukan penajaman (refine) lokasi dan profil penerima manfaat MBG.
"Nomor satu, targetnya ini kita mau refine, sekolah mana yang mau dikasih, usia mana, SD mana, dan lokasinya di mana. Fokus utamanya ke daerah stunting," ucap Budi.
"Lalu untuk ibu hamil, kriteria ibu hamil yang bagaimana dan balitanya seperti apa. Kita harapkan tanggal 5 Agustus sudah selesai semua, di mana ahli gizi memberikan masukan ke Kementerian Kesehatan dan BGN untuk menentukan target," sambungnya.
Fokus kedua, lanjut Budi, adalah menetapkan standar menu dalam program MBG di seluruh wilayah Indonesia.
"Menentukan standar. Standar ini penting, apakah mau diberi kacang, susu, atau bahan pangan lain, itu nanti akan masuk dalam aturan," jelasnya.
Optimistis Kepemimpinan Baru BGN
Di sisi lain, Menkes Budi mengaku sangat optimistis dengan kepemimpinan Kepala BGN yang baru, Sudaryono, yang dinilainya bergerak cepat (gercep) dalam menyelesaikan penataan program MBG.
"Saya sangat yakin dengan Kepala BGN yang baru ini, beliau akan 'gercep' membereskan masalah itu dengan tegas. Ini memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki program yang menurut saya sangat penting bagi kesehatan nasional," pungkas Menkes Budi.