Penanganan Aritmia Mana yang Lebih Efektif, Obat atau Ablasi? Ini Kata Dokter

Pemilihan terapi aritmia tidak bisa disamaratakan karena bergantung pada penyebab dan respons pasien terhadap pengobatan.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 03 Agustus 2026, 16:00 WIB
Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular, Simon Salim menerangkan tentang pengobatan bagi pasien aritmia. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Liputan6.com, Jakarta - Aritmia adalah gangguan irama jantung di mana denyut jantung bisa terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Salah satu terapi gangguan irama jantung yakni dengan mengonsumsi obat.

"Obat-obatan pada aritmia itu hanya supresi saja, menekan, mengurangi, tidak (sepenuhnya) menghilangkan," kata dokter spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular, Simon Salim, dalam sesi wawancara pada acara gathering dari Brawijaya Hospital beberapa saat lalu.

Salim menuturkan kalau penggunaan obat dalam jangka panjang juga memiliki keterbatasan. Pada sebagian pasien, obat dapat menimbulkan efek samping atau bahkan tidak lagi memberikan respons yang optimal.

"Sehingga pada jangka panjang kadang-kadang ada yang mendapatkan efek samping obat atau memang ada obat yang kemudian menjadi tidak mempan lagi," katanya.

Ketika kondisi tersebut terjadi, tindakan ablasi dapat menjadi salah satu pilihan terapi. Menurutnya, ablasi umumnya dipertimbangkan apabila obat sudah tidak efektif, menimbulkan efek samping, atau pasien tidak ingin terus bergantung pada konsumsi obat.

Ablasi adalah pilihan pengobatan penting untuk menangani aritmia, di mana terjadi prosedur invasif minimal yang bertujuan untuk memperbaiki sinyal listrik abnormal di jantung yang menyebabkan terjadinya kondisi tersebut, mengutip laman Brave Heart dari Brawijaya Hospital, Senin (3/8/2026). 

 

Manfaat Ablasi pada Aritmia

Jika target pengobatan adalah menghilangkan gangguan irama jantung, ablasi saat ini menjadi terapi yang paling bisa diandalkan.

"Kalau ingin targetnya adalah cure atau hilang, adalah ablasi. Karena obat hanya menekan saja, tapi nggak menghilangkan," katanya.

Meski demikian, tingkat keberhasilan ablasi tidak sama pada setiap jenis aritmia. Menurutnya, terdapat tipe aritmia yang memiliki angka keberhasilan tindakan hingga sekitar 99 persen, tetapi ada pula yang hanya berkisar 60–70 persen.

"Ada beberapa tipe yang kita bisa bilang 99 persen tingkat keberhasilannya. Ada beberapa aritmia kita cuma berani bilang 60–70 persen. Jadi di mana pun seluruh dunia memang berbeda-beda tergantung jenis aritmianya," ujarnya.

Karena itu, penanganan aritmia perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan agar dokter dapat menentukan terapi yang paling tepat, termasuk apakah pasien cukup ditangani dengan obat atau memerlukan tindakan ablasi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya