PCOS Berubah Jadi PMOS: Kenali Gejala, Risiko, dan Cara Menanganinya

Kenali PMOS, perubahan istilah dari PCOS, gejala, risiko kesehatan, dan cara penanganannya sejak dini.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 02 November 2026, 11:14 WIB
Ilustrasi perempuan dengan PCOS yang kini dikenal sebagai PMOS. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ovarium dan kesuburan, tetapi juga berkaitan dengan gangguan hormonal dan metabolik. (Photo by Ivan Aleksic on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Istilah polycystic ovary syndrome (PCOS) kini bergeser menjadi polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS). Perubahan ini menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar gangguan pada ovarium atau masalah kesuburan. PMOS juga berkaitan dengan kesehatan hormon dan metabolisme tubuh secara menyeluruh.

Kondisi ini menjadi perhatian karena termasuk salah satu gangguan endokrin yang paling umum dialami perempuan usia subur. Di Indonesia, PMOS diperkirakan memengaruhi 4 hingga 10 persen perempuan usia subur. Sejumlah studi klinis juga mencatat angka kejadian sekitar 6,5 hingga 9,1 persen pada kelompok remaja dan perempuan dewasa muda.

Selama ini, PCOS sering dikaitkan dengan menstruasi tidak teratur dan kesulitan hamil. Padahal, dampaknya lebih luas. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lainnya.

Oleh sebab itu, perempuan muda perlu mengenali gejala PMOS dan melakukan pemeriksaan sejak dini, tanpa harus menunggu hingga merencanakan kehamilan.

Mengenal Gejala dan Risiko PMOS

Gejala PMOS sering kali tidak disadari. Sebagian perempuan menganggap menstruasi tidak teratur sebagai hal biasa sehingga menunda pemeriksaan ke dokter.

Padahal, gangguan ini dapat memengaruhi keseimbangan hormon dan proses ovulasi. Dalam jangka panjang, PMOS juga berisiko mengganggu kesehatan reproduksi dan metabolisme tubuh.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Gleneagles Hospital, Singapura, Dr. Wei-Wei Wee-Stekly mengatakan bahwa banyak perempuan muda di Indonesia hidup dengan kondisi tersebut selama bertahun-tahun tanpa mendapatkan diagnosis.

"Banyak perempuan muda di Indonesia hidup dengan kondisi ini selama bertahun-tahun tanpa diagnosis. Hal ini menjadikannya seperti 'epidemi sunyi' yang secara perlahan mengancam kesehatan jangka panjang serta kualitas hidup mereka," ujar Wei dikutip dari keterangan yang diterima Kesehatan Liputan6.com pada Senin, 2 November 2026.

Menurutnya, perubahan istilah PCOS menjadi PMOS penting karena menunjukkan bahwa kondisi tersebut bukan hanya masalah pada ovarium, melainkan gangguan hormonal dan metabolik yang kompleks.

Deteksi dini diperlukan agar perempuan dapat memperoleh penanganan yang tepat, sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan di kemudian hari.

Cara Menangani PMOS

Penanganan PMOS perlu disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan gejala, keseimbangan hormon, kesehatan metabolik, serta rencana kehamilan sebelum menentukan terapi.

Beberapa pilihan penanganan meliputi pemberian kontrasepsi oral untuk membantu mengatur siklus menstruasi, obat anti-androgen untuk mengatasi gangguan akibat kelebihan hormon androgen, serta obat yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Mount Elizabeth Hospitals, Singapura, Dr. Ma menjelaskan bahwa penanganan PMOS membutuhkan pemeriksaan menyeluruh agar terapi sesuai dengan kebutuhan pasien.

"Penanganan PMOS modern membutuhkan strategi yang komprehensif. Kami memanfaatkan evaluasi diagnostik yang terstruktur—dengan memadukan pemeriksaan profil endokrin tingkat lanjut dan ultrasonografi (USG) panggul beresolusi tinggi—untuk memetakan profil metabolik spesifik dari setiap pasien," ujarnya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter dapat menentukan terapi, termasuk pemberian obat anti-androgen, obat peningkat sensitivitas insulin, dan induksi ovulasi untuk membantu pasien yang ingin hamil.

Sementara itu, bagi pasien yang tidak lagi merespons pengobatan medis, prosedur minimal invasif seperti laparoscopic ovarian drilling dapat dipertimbangkan untuk membantu memulihkan fungsi ovulasi.

Pentingnya Perawatan Terintegrasi

Selain pengobatan, penanganan PMOS juga perlu memperhatikan pola hidup dan asupan nutrisi. Pendekatan ini membutuhkan kerja sama berbagai dokter spesialis, mulai dari ginekologi, endokrinologi reproduksi, hingga ahli gizi klinis.

Melalui jaringan rumah sakit Mount Elizabeth, Gleneagles, dan Parkway East, IHH Healthcare Singapore menyediakan layanan kesehatan perempuan dengan pendekatan terintegrasi. Perawatan mencakup penanganan gangguan hormonal, resistensi insulin, dan masalah metabolik lainnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya