Tak Perlu Suplemen, Pakar IPB Bagikan Cara Penuhi Serat Harian

Sekitar 90 persen masyarkat Indonesia rendah konsumsi buah dan sayur.

Diterbitkan 07 Agustus 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini makin banyak orang yang peduli kesehatan termasuk makanan yang masuk. Salah satu aspek yang diperhatikan adalah serat untuk kesehatan pencernaan.

Menurut pakar gizi masyarakat IPB University, Prof. Ali Khomsan, untuk bisa memenuhi kebutuhan serat harian sebenarnya dapat dipenuhi melalui pola makan bergizi seimbang tanpa harus mengandalkan suplemen.

Orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 20-30 gram serat per hari. Jumlah tersebut dapat diperoleh dengan rutin mengonsumsi sayur, buah, serta biji-bijian utuh (whole grains).  Untuk mencapai kebutuhan serat tersebut bisa dengan mengonsumsi sedikitnya lima porsi sayur dan buah.

Lebih lanjut, Ali mengatakan sumber serat alami mudah ditemukan di sekitar kita. Beragam sayuran dan buah dapat menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan serat setiap hari.

Ia juga menyarankan agar apel dan pir dikonsumsi bersama kulitnya setelah dicuci bersih. Menurutnya, kulit kedua buah tersebut mengandung serat larut yang bermanfaat untuk membantu mengendalikan kadar kolesterol sekaligus menjaga kesehatan saluran pencernaan.

"Pada kulit apel dan pir terdapat serat larut yang baik untuk membantu mengendalikan kolesterol sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna," jelasnya mengutip laman IPB.

Efek Konsumsi Serat Kebanyakan

Belakangan, tren fiber maxxing ramai dibahas di media sosial. Tren ini mendorong masyarakat mengonsumsi serat hingga 50-100 gram per hari demi menjaga kesehatan usus.

Terkait tren itu, mengonsumsi serat secara berlebihan bukan berarti memberikan manfaat lebih besar. Sebaliknya, asupan serat yang berlebihan justru dapat mengganggu penyerapan zat gizi lain.

"Sesuatu makanan atau sumber gizi apabila dikonsumsi secara berlebihan tentu saja bisa menimbulkan gangguan kesehatan. Serat yang dikonsumsi berlebihan juga dapat mengganggu serapan zat gizi lain," katanya.

Menurut Prof Ali, seseorang yang telah menerapkan pola makan sehat dan beragam tidak memerlukan suplemen serat. Suplemen baru dibutuhkan pada kondisi tertentu, seperti lansia yang mengalami penurunan nafsu makan, pasien dalam masa pemulihan, atau orang yang mengalami gangguan kesehatan sehingga sulit memenuhi kebutuhan gizi dari makanan.

“Jadi, suplemen diperlukan dalam batas tertentu dan tergantung pada problem makan yang sedang dihadapi,” katanya.