Isi Kulkas di Rumah Ternyata Berkaitan dengan Risiko Obesitas Anak

Medical Educator mengungkap hubungan isi kulkas di rumah dengan risiko obesitas anak yang sering terlewat.

Diterbitkan 02 Juni 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua mengira obesitas anak hanya disebabkan oleh kebiasaan mengonsumsi makanan manis atau kurang berolahraga. Padahal, ada faktor lain yang sering luput dari perhatian, yaitu isi kulkas di rumah. Lantas, apa hubungannya?

Medical Educator and Influencer, dr. Diana Suganda, menjelaskan, lingkungan makanan di rumah memiliki pengaruh besar terhadap pola makan anak sehari-hari. Makanan dan minuman yang tersedia di rumah umumnya akan menjadi pilihan yang paling sering dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak.

"Kalau saya boleh saran, sampai rumah cek isi kulkasmu," ujar Diana dalam sebuah kesempatan baru-baru ini.

Menurutnya, isi kulkas bisa mencerminkan kebiasaan makan sebuah keluarga. Jika kulkas lebih banyak berisi buah-buahan, sayuran, susu, dan bahan makanan segar lainnya, anak akan lebih mudah mengonsumsi makanan bergizi.

Sebaliknya, jika kulkas dipenuhi minuman manis, es krim, cokelat, serta makanan dan minuman kemasan, maka anak juga akan lebih sering mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan kalori.

Karena itu, orang tua perlu lebih bijak dalam menentukan makanan yang tersedia di rumah. Diana menilai apa yang disimpan di dalam kulkas akan sangat memengaruhi kebiasaan makan anak dalam jangka panjang.

"Jadi, anak mau buka kulkas berapa kali, mau sampai 100 kali buka tutup, isinya buah, isinya sayur, isinya makanan segar, isinya susu, itu yang akan mereka konsumsi. Itu akan membuat habit mereka terbiasa makan itu sehingga tidak akan makan yang lain," tambahnya.

 

Penyebab Obesitas pada Anak

Diana menjelaskan obesitas anak umumnya terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara asupan energi dan aktivitas fisik. Ketika anak mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibakar tubuh, kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai lemak.

Sumber kalori berlebih paling sering berasal dari minuman manis, makanan manis, dan makanan yang digoreng. Ketiga jenis makanan tersebut mudah ditemukan di rumah dan sering menjadi pilihan anak ketika merasa lapar atau ingin camilan.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga menjadi faktor yang memperbesar risiko obesitas. Menurut Diana, kondisi ini merupakan kombinasi antara intake yang berlebihan dan output yang minim.

"Ini semua harus balance," katanya.

Meski begitu Diana mengingatkan orang tua tidak perlu melarang anak secara berlebihan untuk mengonsumsi makanan tertentu. Sebaliknya, yang lebih penting adalah membangun kebiasaan makan yang sehat dan seimbang.

Salah satu caranya adalah dengan menyediakan pilihan makanan sehat di rumah. Ketika anak membuka kulkas, mereka akan menemukan buah, sayur, susu, dan makanan segar yang lebih baik untuk kesehatan.

Menurutnya, kebiasaan ini akan membantu anak terbiasa memilih makanan yang sehat karena itulah yang paling mudah diakses setiap hari.

"Itu akan membuat habit mereka terbiasa makan itu," ujarnya.

Pendekatan ini juga mengajarkan anak untuk lebih sadar terhadap makanan yang dikonsumsi atau mindful eating. Anak tetap boleh mengenal makanan manis maupun camilan favoritnya, tapi dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan.