Faktor yang Sering Diabaikan Ini Berpengaruh pada Tinggi Badan Anak

Banyak orang tua belum tahu bahwa faktor ini ternyata berperan besar pada tinggi badan anak.

Diterbitkan 17 Juni 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang tua mengira tinggi badan anak hanya ditentukan oleh faktor genetik dan asupan makanan. Padahal, ada faktor lain yang sering diabaikan tapi memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan anak, yaitu kualitas tidur.

Hal tersebut disampaikan Dokter Spesialis Anak Konsultan Tumbuh Kembang, Prof. DR. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K). Menurutnya, pertumbuhan tinggi badan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda pada setiap fase usia.

"Jadi pola pertumbuhan tinggi badan itu sampai usia 2 tahun sangat dipengaruhi oleh nutrisi. Kemudian usia 2 sampai kira-kira 12 tahun itu ada faktor growth hormone. Nah, setelah remaja mulai bertambah lagi faktor hormon seks sekunder karena setelah remaja ada pacu tumbuh," ujar Rini kepada Kesehatan Liputan6.com dalam sebuah kesempatan belum lama ini.

Rini menjelaskan bahwa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode yang sangat menentukan pertumbuhan anak. Pada masa ini, kebutuhan nutrisi harus terpenuhi secara optimal agar proses tumbuh kembang berlangsung dengan baik.

Namun, dia mengingatkan orang tua tidak perlu memberikan protein secara berlebihan dengan harapan anak bisa tumbuh lebih tinggi.

"Jadi, dua tahun pertama itu benar-benar nutrisi. Nutrisinya harus seimbang, tidak perlu juga double protein untuk bayi. Semuanya sesuai dengan komposisi yang dimakan," katanya.

Pola makan yang seimbang dengan kandungan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral tetap menjadi kunci utama untuk mendukung pertumbuhan tinggi badan anak.

 

Growth Hormone Berperan pada Tinggi Badan Anak

Setelah anak berusia di atas 2 tahun, faktor lain mulai berperan besar dalam pertumbuhan, yakni hormon pertumbuhan atau growth hormone.

Menurut Rini, hormon ini memiliki peran penting dalam proses pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh. Menariknya, produksi growth hormone sangat berkaitan dengan kualitas tidur anak.

"Kalau sudah di atas 2 tahun itu ada faktor growth hormone. Itu dipengaruhi oleh faktor tidur. Growth hormone itu keluar pada saat tidur malam, saat deep sleep. Itu kira-kira keluar jam 11 malam," ujarnya.

Oleh sebab itu, anak yang sering tidur larut malam atau memiliki pola tidur yang tidak teratur berisiko tidak mendapatkan kualitas tidur yang optimal.

 

Biasakan Anak Tidur Teratur Sejak Dini

Rini menekankan pentingnya membangun kebiasaan tidur yang baik sejak anak masih bayi. Orang tua sebaiknya menetapkan jam tidur yang konsisten setiap hari agar ritme biologis anak terbentuk dengan baik.

"Anak harus diajari untuk memiliki jam tidur yang teratur sejak bayi. Bed time itu harusnya jam 8 malam," ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar justru sering kali datang dari orang tua yang belum konsisten menerapkan aturan tidur di rumah.

Padahal, kebiasaan yang sudah terbentuk sejak dini akan lebih mudah dipertahankan dibanding memperbaikinya ketika anak sudah terbiasa tidur larut.

Selain mengatur jam tidur, orang tua juga perlu melatih anak untuk bisa tidur secara mandiri dan mendapatkan tidur yang berkualitas.

"Begitu bermasalah, memperbaikinya lebih sulit. Jadi harus dilatih. Ini melatih dia tidur teratur, bisa tidur sendiri tanpa harus ditemani dalam jangka waktu lama," pungkas Rini.