Carpal Tunnel Syndrome Mengintai Atlet Esports, Kenali Risikonya

Carpal Tunnel Syndrome mengintai atlet esports akibat gerakan berulang. Kenali gejala dan risikonya.

Diterbitkan 16 September 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di balik ketangkasan dan pergerakan cepat para atlet esports di layar, risiko cedera tetap mengintai. Aktivitas menggenggam ponsel atau game stick dalam waktu lama, ditambah gerakan jemari yang berulang, dapat memicu berbagai keluhan fisik. Salah satunya adalah Carpal Tunnel Syndrome (CTS), yang menurut salah satu pelatih fisik Timnas Esports Indonesia, Yudhi Esa Saputra, menjadi cedera yang kerap ditemui pada atlet esports.

Dalam acara Optimalisasi Sports Science dan Sinergi Ekosistem Pendukung: Kunci Timnas Esports Indonesia Menuju Asian Games dan Kejuaraan Dunia GEG 2026 yang digelar Pengurus Besar Esports Indonesia bersama Salonpas di Jakarta, Selasa (15/9/2026), Yudhi menjelaskan kondisi tersebut.

CTS terjadi ketika saraf di area pergelangan tangan mengalami tekanan atau terjepit. Kondisi ini dapat menimbulkan gejala seperti kesemutan, nyeri, hingga kelemahan pada jemari.

Risiko tersebut dapat semakin berat ketika otot-otot di sekitar tangan belum cukup kuat untuk menerima beban kerja yang berlangsung terus-menerus.

"Ada (cedera) pasti. Contohnya istilahnya carpal tunnel syndrome. Jadi cedera yang biasa ditemui oleh atlet esports, di samping itu juga rasa nyeri yang ter-distract tadi oleh otot-ototnya yang masih lemah," kata Yudhi di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Menurut Yudhi, penanganan cedera tidak hanya berfokus pada meredakan rasa nyeri, tapi juga memperkuat otot-otot yang menjadi tumpuan serta memberikan intervensi berupa sports massage.

"Makanya kita sebagai pelatih fisik itu memberikan penguatan di bagian-bagian otot yang tertumpu. Nah di samping itu kita juga punya sports massage, jadi kalau ada anak yang cedera bisa langsung ditangani," tambahnya.

Squat Perkuat Punggung Bawah agar Nyaman Duduk

Penanganan fisik atlet esports tidak hanya berfokus pada tangan, tapi juga dilakukan secara menyeluruh, termasuk memperhatikan postur tubuh.

Pelatih fisik lainnya, Maleaky Patty, menjelaskan pentingnya latihan dasar seperti squat, push-up, dan pull-up bagi atlet esports.

Sebelum melakukan latihan, para pelatih biasanya memberikan edukasi mengenai fungsi setiap gerakan agar atlet memahami manfaatnya bagi tubuh.

“Biasanya, kami akan melakukan pendekatan, contohnya pengenalan how to squat, pull up, push up, atau alat di gym. Awalnya kami kasih tau knowledge kenapa harus squat, ini untuk apa, kenapa nggak latihan push up. Sampai akhirnya tahu ‘oh ini untuk ini’," ujarnya.

Squat tidak hanya berfungsi melatih otot kaki. Dalam latihan fisik atlet esports, gerakan ini juga membantu melatih otot bokong dan area lower back atau punggung bawah.

Penguatan pada area tersebut dapat membantu atlet mempertahankan posisi duduk dengan lebih nyaman selama bermain. Dengan demikian, rasa pegal yang mengganggu dapat diminimalkan sehingga fokus selama pertandingan tetap terjaga.

"Squat itu kan sebenarnya buat latih otot bokong, dia mendekati sama lower back. So kalau kita naikin itu terus mereka latih back, itu mau tidak mau. Pada saat mereka tau ternyata dengan latih squat saja bisa memperkuat lower back, akhirnya mereka duduknya bisa lebih tenang dan fokus di permainan," kata Eky.

Edukasi mengenai fungsi setiap gerakan menjadi bagian penting dalam latihan fisik. Dengan memahami manfaatnya, atlet diharapkan dapat melakukan latihan dengan lebih baik dan sesuai kebutuhan.

Eki menekankan bahwa hal-hal yang terlihat sederhana, seperti postur duduk dan daya tahan otot punggung, dapat berpengaruh terhadap fokus atlet saat bertanding.

"Kadang atlet atau pelatih hanya fokus di hal-hal besar mungkin, tetapi hal kecil seperti postural, kalau mereka sudah bagus, permainan juga jadi lebih fokus," pungkasnya.