Meski Akan Copot Sendiri, Gigi Susu Anak Tetap Perlu Dirawat

Gigi susu berperan dalam beberapa proses pertumbuhan anak. Karena itu, perawatannya perlu dimulai sejak dini.

Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan gigi anak perlu dijaga sejak dini, termasuk ketika gigi yang tumbuh masih berupa gigi susu. Gigi susu kerap dianggap tidak membutuhkan perawatan khusus karena nantinya akan tanggal dan digantikan gigi permanen. Padahal, gigi susu memiliki sejumlah fungsi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Gigi pertama bayi umumnya mulai tumbuh pada usia 6-8 bulan. Pertumbuhan gigi susu berlanjut hingga anak berusia sekitar tiga tahun, dengan total 20 gigi, dikutip laman Kemenkes, Senin (12/10/2026).

Email atau lapisan terluar gigi anak juga disebut lebih rentan mengalami kerusakan dibandingkan gigi orang dewasa. Oleh karena itu, kebersihan dan kesehatan gigi perlu diperhatikan sejak gigi pertama tumbuh.

Berikut beberapa fungsi gigi susu:

  • Gigi susu berfungsi membantu anak mengunyah makanan.
  • Gigi susu juga berperan dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan.
  • Membantu perkembangan wajah dan otot rahang.
  • Menjaga ruang bagi gigi permanen yang akan tumbuh.

Di samping itu, gigi susu sebaiknya dipertahankan hingga waktunya tanggal secara alami. Perawatan yang baik membantu menjaga fungsinya selama masa pertumbuhan dan mendukung perkembangan gigi permanen.

Menjaga Kesehatan Gigi Anak

Orang tua dapat mulai membangun kebiasaan menjaga kebersihan mulut sejak gigi pertama anak muncul. Berikut beberapa langkah yang dianjurkan.

Pertama, bersihkan gigi dan gusi anak pada pagi hari serta malam sebelum tidur. Orang tua dapat menggunakan kasa basah atau sikat gigi berbulu lembut sesuai kondisi anak.

Kedua, hindari kebiasaan memberikan susu atau minuman manis menggunakan botol dot menjelang tidur. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko gigi berlubang.

Ketiga, perhatikan konsumsi jus buah. Meski dapat menjadi bagian dari pola makan anak, konsumsi berlebihan, terutama jika ditambahkan pemanis, berpotensi merusak gigi.

Selain itu, orang tua juga dapat memberikan apresiasi ketika anak mulai terbiasa merawat giginya. Selain membantu membangun kebiasaan positif, pendekatan ini dapat membuat rutinitas menjaga kebersihan gigi terasa lebih menyenangkan.

Gangguan Gigi dan Mulut pada Anak

Beberapa masalah yang dapat dialami anak meliputi gigi berlubang atau karies, radang gusi, infeksi gusi, sariawan, dan gigi patah.

Kebersihan mulut yang tidak terjaga dapat berkontribusi terhadap penumpukan plak serta sejumlah gangguan gigi dan gusi.

Gusi yang bengkak, perubahan warna gusi, perdarahan, atau rasa sakit ketika mengunyah perlu diperhatikan. Jika anak mengalami gigi patah, orang tua perlu segera membawanya ke dokter gigi untuk memeriksa tingkat kerusakan.

Pada kondisi anak belum memiliki gigi, kebersihan mulut juga tetap perlu dijaga. Gusi dan lidah perlu dibersihkan karena sisa makanan dan mikroorganisme dapat menumpuk di rongga mulut.

Kapan Anak Perlu ke Dokter Gigi?

Mengutip rekomendasi Stanford Children’s Health, kunjungan pertama ke dokter gigi dianjurkan pada usia 12 bulan atau dalam enam bulan setelah gigi pertama tumbuh.

Pemeriksaan dapat mencakup kondisi gigi, rahang, gusi, serta jaringan lain yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan mulut.

Selepas kunjungan pertama, pemeriksaan rutin umumnya dianjurkan setiap enam bulan, meski jadwal dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak dan rekomendasi dokter gigi.

Dengan membiasakan perawatan sejak dini dan melakukan pemeriksaan berkala, orang tua dapat membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak selama masa pertumbuhan.