Kronologi Dokter Internship di Jambi Meninggal usai Tetap Jaga Saat Sakit

Kemenkes ungkap perjalanan sakit dokter internship di Jambi sebelum akhirnya meninggal dunia.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 18:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pelaksana tugas (Plt.) Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Rudi Supriatna Nata Saputra, mengungkap kronologi meninggalnya dokter internship (magang) di Jambi, dr. Myta Aprilia Azmy (MAA).

Menurutnya, Myta seharusnya menjalani internship di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal pada 11 Februari hingga 10 Agustus 2026.

Pada masa awal melaksanakan magang di RSUD ini, Myta dalam keadaan sehat, dia mendapat tugas jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan shift pagi pukul 08.00 hingga 20.00 dan shift malam pukul 20.00 hingga 08.00 secara bergantian.

"Di tanggal 24 Maret ketika menjalani stase IGD tadi di Kuala Tungkal dokter MAA ini merasakan gejala penyakit dan tetap bertugas di IGD. Kemudian yang bersangkutan menjalani pengobatan mandiri," kata Rudi dalam temu media di Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026.

Gejala yang dialami adalah demam, batuk, dan pilek. Gejala berlanjut hingga 31 Maret 2026, tapi Myta tetap jaga malam di IGD dalam kondisi demam, batuk, dan pilek.

Myta tidak melaporkan kondisinya kepada dokter pendamping karena khawatir membebani rekan kerja dan prolong (perpanjangan masa internship).

Pada 11 April 2026, Myta jaga pagi di IGD masih dengan kondisi demam, batuk, pilek, dia sempat mendapat obat dari dokter IGD.

Hari berikutnya, 12 April 2026, Myta tetap jaga malam di IGD dengan kondisi demam, batuk, pilek dan kembali diberi obat oleh dokter IGD.

Kondisi sakit terus berlanjut pada 13 April 2026, Myta pun mendapat infus dan obat di IGD karena demam.

Kondisi Semakin Buruk di 15 April 2026

Di 15 April 2026 pagi, Myta mengirim pesan suara kepada rekannya, dr. A. Ia meminta untuk digantian jadwal jaga, dari pesan suara itu, suara Myta terdengar sesak dan putus-putus.

Di hari yang sama, pukul 18.00, ibu Myta menghubungi MZ (keluarga) karena sang anak tak dapat dihubungi. MZ pun menghubungi rekan magang Myta, dr. F, untuk mencari keberadaan Myta.

Saat dicek ke kamar kos, Myta tengah berdiri di bawah tangga dalam kondisi linglung. Ia mengenakan atasan seragam scrub, celana pendek, tanpa jilbab. Setelah ditanya dr. F, Myta menjawab hendak berangkat jaga.

Di malam harinya, Myta dijemput oleh satu perawat IGD, satu orang petugas unit transfusi darah (UTD), dan dibawa ke IGD RSUD K.H. Daud Arif menggunakan dua motor. Rekan magang, dr. M dan dr. F turut mengantar.

Sempat Dirawat

Pada 15 hingga 20 April 2026, Myta sempat dirawat di RSUD K.H. Daud Arif. Pada 20 April, ia dibolehkan pulang sejak pagi oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP), dr. T, tapi Myta meminta untuk diobservasi hingga siang hari.

Di malam harinya, Myta kembali mengalami demam tinggi. Dan pada 21 April 2026 subuh, ia kembali masuk IGD dengan keluhan sesak dan demam. Dan pada pukul 10.30 pagi, Myta dibawa pihak keluarga ke RSUD Raden Mattaher Jambi menggunakan kendaraan pribadi. Dalam keadaan itu, ia dibawa perjalanan jauh sekitar 120 km atau tiga jam perjalanan darat.

Pukul 13.54, Myta masuk IGD RSUD Mattaher Jambi dengan keluhan batuk dan sesak napas. Pada 24 April, ia dibolehkan pulang oleh DPJP dr. M, dan rencana kontrol poli paru pada 29 April. Pada saat itu, hasil pemeriksaan belum diterima oleh pihak keluarga.

Lakukan Perjalanan Ratusan Kilo

Pada 24 hingga 25 April, Myta dan keluarga melakukan perjalanan darat Jambi-Kuala Tungkal-Ogan Komering Ulu Selatan menggunakan kendaraan pribadi sekitar 788 km atau 16 jam perjalanan untuk pulang ke rumah dan istirahat. 

Seperti diketahui, rumah Myta berada di Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan. Sementara, RS tempatnya magang berada di  Kuala Tungkal, Jambi.

Sayangnya, 25 April malam, Myta kembali demam tinggi sehingga harus istirahat dulu di rumah saudara di Palembang.

Keesokan harinya, 26 April 2026, perjalanan berlanjut dari Palembang ke Ogan Komering Ulu Selatan dengan jarak 324 km atau 6 jam perjalanan darat menggunakan mobil. Tiba pukul 16.00, Myta dirawat di Klinik Ismada selama dua jam. Pada 18.00, ia dirujuk ke RSUP dr. Moh. Hoesin Palembang.

Pada 27 April pukul 01.00, Myta tiba di RSUP dr. Moh. Hoesin Palembang dalam keadaan sadar. Pukul 03.00 ia masuk ruang isolasi infeksi. Pukul 16.00 masuk ICU dan dipasang ventilator. Perawatan di RS tersebut dilakukan hingga 1 Mei 2026. Dan di tanggal ini, Myta dinyatakan meninggal dunia dengan kondisi paru berat di RSUP dr. Moh. Hoesin Palembang.