Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan sebanyak 2,21 juta anak usia sekolah memiliki tekanan darah di atas normal. Hal ini mengacu pada data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga 31 Juli 2026.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes Maria Endang Sumiwi menjelaskan, tekanan darah di atas normal pada anak tidak bisa langsung disimpulkan sebagai hipertensi. Berbeda dengan orang dewasa, diagnosis hipertensi pada anak harus dipastikan melalui pemeriksaan lanjutan di fasilitas pelayanan kesehatan dengan mempertimbangkan berbagai aspek.
"Belum diagnosis darah tinggi, tetapi tekanan darahnya sudah di atas normal. Untuk anak-anak, diagnosis hipertensi harus dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan," kata Endang dalam temu media Update Hasil CKG 2026 di Kantor Kemenkes Jakarta pada 4 Agustus 2026.
Advertisement
Menurut Endang tekanan darah yang termasuk tinggi pada sejumlah anak sekolah berkaitan dengan aktivitas fisik yang rendah dan pola makan. Merujuk hasil CKG tahun lalu sekitar 30 persen anak sekolah memiliki tingkat kebugaran yang kurang baik.
Penilaian kebugaran dilakukan melalui sejumlah tes fisik yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan, seperti lari 1,6 kilometer maupun tes lari bolak-balik.
"Jadi kebugaran kita masih kurang pada anak-anak," ujarnya.
Sementara untuk pola makan, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sekitar 50 persen anak masih gemar mengonsumsi makanan dan minuman manis, sementara sekitar 40 persen menyukai makanan yang gurih.
Menurut Endang, kebiasaan tersebut masih mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Minuman manis masih menjadi pilihan utama masyarakat sehingga konsumsi gula pada anak sulit dikendalikan. Selain itu, sekitar 95 persen anak juga belum mengonsumsi sayur dan buah sesuai anjuran.
"Jadi dari sisi pola makan harus diperbaiki, dari sisi kebugaran juga harus diperbaiki," katanya.
Kerja Sama dengan Kemendikdasmen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315385/original/083473900_1785836470-WhatsApp_Image_2026-08-04_at_4.36.10_PM.jpeg)
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) agar aktivitas fisik anak tidak hanya dilakukan saat pelajaran olahraga di sekolah. Menurut penuturan Endang, kini sekolah telah memberikan PR kepada anak-anak untuk melakukan aktivitas fisik di rumah. Misalnya latihan lompat tali (skipping) selama sekitar 30 menit setiap hari.
"Jadi tidak hanya dilakukan di sekolah. Anak-anak juga bisa diberi PR, misalnya skipping, supaya di rumah tetap melakukan olahraga sekitar 30 menit," ujar Endang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316841/original/059462500_1785991327-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-06T113319.126.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8820855/original/024125800_1782912081-gedung_ditjen_pajak-1_Juli_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316388/original/075760100_1785924799-cek_fakta_-_cpns_kementerian_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5305368/original/097861700_1754306285-WhatsApp_Image_2025-08-04_at_18.05.18.jpeg)
