Menkes Budi: Penularan Hantavirus Tak Semudah COVID-19

Menkes Budi tegaskan bahwa penularan hantavirus tidak semudah COVID-19. Begini penularan virus hanta.

Diterbitkan 12 Mei 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan penularan hantavirus atau virus hanta tidak semudah COVID-19.

SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 menular melalui droplet atau percikan air liur yang dilepaksan saat berbicara, batuk, bersin atau bernapas. Sementara itu, penularan hantavirus terjadi saat seseorang kontak dengan feses, urine maupun gigitan tikus yang terinfeksi virus hanta.

"Beda dengan COVID, virus ini (hantavirus) menular sangat susah. Penularan lewat tikus," kata Budi ditemui di Mal Lippo Nusantara Jakarta pada Selasa, 12 Mei 2026.

Lalu, ada satu strain hantavirus yakni virus Andes yang kasusnya seperti terjadi di kapal pesiar MV Hondius, yang bisa menular antar manusia. Penularan antarmanusia bisa terjadi bila terdapat kontak erat yang dekat.

"Nah itu (Andes virus) dari Amerika Selatan itu bisa menular kalau setiap hari ketemu, tidur bareng, bisa tertular," tutur Budi.

Hantavirus Bukan Virus Baru

Budi mengatakan bahwa hantavirus bukanlah virus baru. Di Indonesia, kasus hantavirus yang tercatat itu pada 1991. Lalu, tiap tahun kerap terdeteksi orang yang terinfeksi virus hanta.

"Tiap tahun ada yang kena, ada 10-an, kadang di bawah 10 kasus, kadang bisa mencapai 25 kasus ," tutur Budi.

Jika pun terinfeksi hantavirus, pasien di Indonesia bisa segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan.

"Rumah sakit-rumah sakit itu udah pada tahu cara menanganinya," tutur Budi.

Hantavirus di Indonesia Beda Varian dengan di Kapal MV Hondius

Budi menegaskan varian hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius. Strain hantavirus di Indonesia biasanya dari jenis Seoul virus (SEOV) yang menyerang ginjal.

Sementara itu, kasus hantavirus pada kapal pesiar MV Hondius disebabkan oleh Andes virus, jenis yang menyerang paru-paru dengan tingkat kematian tinggi hingga 50 persen. 

“Yang terjadi di luar negeri, di kapal pesiar MV Hondius, itu berbeda dengan yang ada di Indonesia,” ujar Budi.

Meski demikian, Budi tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan guna menekan risiko penularan hantavirus. Salah satu langkah penting adalah memastikan rumah, tempat makan, maupun restoran terbebas dari tikus sebagai hewan perantara penularan virus tersebut.