Peneliti Temukan Lemak Tersembunyi Pemicu Gangguan Jantung

Peneliti menemukan lemak tersembunyi di otot yang diam-diam bisa meningkatkan risiko gangguan jantung.

Diterbitkan 13 Mei 2026, 12:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang merasa aman dari risiko penyakit jantung karena memiliki tubuh yang terlihat sehat atau tidak mengalami obesitas. Namun, penelitian terbaru mengungkap ada jenis lemak tersembunyi di dalam otot yang diam-diam bisa meningkatkan risiko gangguan jantung dan masalah metabolik lainnya.

Lemak ini dikenal sebagai intermuscular adipose tissue atau lemak intramuskular, yaitu lemak yang menumpuk di sela-sela serat otot. Berbeda dengan lemak tubuh yang terlihat di bagian perut atau paha, lemak tersembunyi ini tidak mudah dikenali dari penampilan fisik.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Radiology milik Radiological Society of North America menemukan bahwa lemak tersembunyi di dalam otot berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah tidak stabil, hingga kolesterol yang tidak sehat.

Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 11 ribu orang dewasa tanpa riwayat penyakit tertentu. Para peserta menjalani pemeriksaan MRI seluruh tubuh yang kemudian dianalisis menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk melihat komposisi otot dan jumlah lemak tersembunyi di dalamnya.

Hasil penelitian menunjukkan pola yang cukup jelas. Orang dengan kadar lemak intramuskular lebih tinggi cenderung memiliki kondisi kesehatan kardiometabolik yang lebih buruk dibanding mereka yang memiliki massa otot lebih baik.

Meski tampak sehat, banyak peserta ternyata memiliki faktor risiko yang sebelumnya tidak disadari. Sebanyak 16,2 persen mengalami tekanan darah tinggi, 8,5 persen memiliki kadar gula darah tidak stabil, dan hampir setengah peserta mempunyai profil lemak darah yang tidak sehat.

Peneliti juga menemukan bahwa semakin rendah massa otot tanpa lemak (lean muscle mass), maka semakin tinggi risiko gangguan metabolik dan penyakit jantung.

Dokter spesialis jantung intervensi sekaligus Direktur Program Structural Heart di MemorialCare Saddleback Medical Center, California, Dr. Cheng-Han Chen mengatakan temuan ini menunjukkan pentingnya memperhatikan kualitas otot, bukan hanya berat badan.

"Penelitian ini menemukan hubungan antara lemak di dalam otot dengan meningkatnya faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi," kata Cheng-Han Chen seperti dikutip dari Medical News Today pada Rabu, 13 Mei 2026.

Menurut Chen, hasil studi tersebut kembali menegaskan bahwa komposisi otot yang baik berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh.

"Temuan ini mendukung anjuran agar latihan kekuatan dilakukan secara rutin sebagai bagian dari pola olahraga sehat untuk jantung," lanjutnya.

 

Hubungan Lemak dan Risiko Penyakit Jantung

Menariknya, massa otot tanpa lemak yang tinggi tampak memberikan perlindungan terhadap risiko penyakit jantung, tapi efek ini lebih jelas ditemukan pada laki-laki.

Sementara pada perempuan, massa otot cenderung stabil hingga usia paruh baya lalu mulai menurun drastis di usia 40 hingga 50 tahun. Peneliti menduga perubahan hormon saat menopause, terutama penurunan estrogen, bisa memengaruhi kondisi tersebut.

Selain faktor hormon, penelitian ini juga menyoroti pentingnya aktivitas fisik. Orang yang jarang bergerak diketahui memiliki lebih banyak lemak tersembunyi di dalam otot dan massa otot yang lebih rendah.

Oleh sebab itu, olahraga rutin dinilai menjadi salah satu cara efektif untuk mencegah penumpukan lemak tersembunyi. Latihan aerobik seperti jalan kaki, jogging, atau bersepeda, serta latihan kekuatan seperti angkat beban dan resistance training, terbukti membantu menjaga kualitas otot.

 

Gejala Penyakit Berbahaya

American Heart Association (AHA) sendiri merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu atau 75 menit aktivitas intensitas tinggi. Selain itu, latihan penguatan otot dianjurkan dilakukan setidaknya dua kali dalam seminggu.

Temuan ini dinilai penting karena lemak tersembunyi di dalam otot bisa menjadi tanda awal risiko penyakit kardiometabolik, bahkan pada orang yang terlihat sehat dari luar.

Peneliti berharap pemeriksaan komposisi otot melalui MRI di masa depan dapat membantu dokter mendeteksi risiko penyakit lebih dini sebelum gejala muncul.

Meski demikian, para ahli menegaskan masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan bagaimana komposisi otot dapat digunakan sebagai alat prediksi risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik secara lebih akurat.