Liputan6.com, Jakarta - Virus hanta atau hantavirus merupakan virus RNA yang termasuk kelompok zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Orang yang kerap berinteraksi atau berada di lingkungan yang ada tikus memiliki risiko tertular virus hanta seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Alindina Anjani.
Alindina mengungkapkan virus hanta menular ke manusia terjadi melalui kontak dengan urine, feses, air liur, maupun aerosol dari ekskresi tikus yang terinfeksi seperti disampaikan dokter Keberadaan tikus menjadi faktor penting dalam rantai penularan penyakit.
“Kalau tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan ke manusia seperti ini. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus,” jelas tutur dari Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) itu mengutip laman UGM.
Advertisement
Lebih lanjut, Alindina mengungkapkan kelompok yang rentan terpapar hantavirus antara lain pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang (outdoor) seperti orang yang suka berkemah.
Risiko juga meningkat pada orang yang berada di lingkungan dengan sanitasi buruk atau area yang mengalami infestasi tikus (tempat sarang atau berkembang biak tikus).
Tipe Hantavirus di Indonesia Beda dengan di Kapal Pesiar MV Hondius
Secara umum terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara dan Selatan seperti yang terjadi pada kapal pesiar MV Hondius. Sedangkan HFRS dominan di Asia dan Eropa.
Alindina menuturkan pada HFRS, organ yang menjadi target utama adalah ginjal dan endotel vaskular. Kerusakan vaskular akibat infeksi menyebabkan kebocoran kapiler serta gangguan fungsi ginjal yang memunculkan manifestasi berupa:
- demam tinggi,
- hipotensi (kondisi ketika tekanan darah berada di bawah batas normal, yaitu di bawah 90/60 mmHg),
- oliguria (produksi urine jauh lebih sedikit dari biasanya),
- proteinuria (kadar protein dalam urine melebihi batas normal,
- hematuria (sel darah merah dalam urine),
- hingga perdarahan.
Advertisement
Gejala HFRS Mirip Penyakit Infeksi Tropis Lain
Melihat gejala di atas, Alindina menuturkan manifestasi hantavirus HFRS kerap menyerupai berbagai penyakit infeksi tropis lain. Maka perlu perhatian khusus dalam diagnosis banding.
Penyakit yang perlu dipertimbangkan antara lain demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, disseminated intravascular coagulation (DIC), hemolytic uremic syndrome, sepsis, hingga scrub typhus.
Kemiripan gejala tersebut dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis apabila tenaga kesehatan tidak memiliki kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi hantavirus, terutama pada pasien dengan riwayat paparan tikus atau lingkungan berisiko.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8673310/original/025399100_1782713964-cek_fakta_purbaya_pensiunan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668432/original/066093000_1782703201-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T101610.906.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463779/original/049305200_1767670885-Screenshot_2026-01-06_103951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5407989/original/006541000_1762760141-Tikus.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260382/original/054470700_1781590662-063_2281748273.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259253/original/099827400_1781493084-AP26165774269127.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4864218/original/041026400_1718404435-AP24166759629724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263966/original/082388400_1782038241-000_B7RC3ZV.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5415752/original/060786800_1763419826-000_84BP8PA.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8525155/original/017274300_1782455154-AP26176798846634.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8452334/original/003376600_1782349228-ney.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259033/original/064642600_1781436681-000_B6Z637Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8668326/original/051794500_1782703035-AP26179791541483.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259121/original/085743200_1781464083-063_2281573951.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258603/original/068747200_1781377075-WhatsApp_Image_2026-06-14_at_01.53.50.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5332864/original/002871300_1756539230-Gemini_Generated_Image_cwn2recwn2recwn2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7816615/original/089968200_1780634590-fdd74e8d-e648-4b8e-9de6-71515a6810ef.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569223/original/036885800_1777434201-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4698152/original/019329400_1703568085-1faffedd-4c3d-484a-96ff-b0bdf98ba24f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6307504/original/033003200_1779181803-Dinkes_Karawang.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5454679/original/022501600_1766567800-Gemini_Generated_Image_y1auu6y1auu6y1au_2.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5765749/original/083366900_1778668872-Hantavirus__2_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288790/original/071396100_1752992572-ChatGPT_Image_20_Jul_2025__13.22.26.jpg)