Viral Dugaan Riset Palsu AI oleh WNI di Forum Dunia, Pakar Angkat Bicara

Viral dugaan riset palsu AI oleh WNI, pakar angkat bicara soal pelanggaran integritas ilmiah.

Diterbitkan 26 Mei 2026, 15:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belakangan viral di media sosial sejumlah orang diduga membuat riset palsu dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Bermodalkan riset ini, mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk datang ke lebih dari 50 negara secara gratis.

Kasus ini mulai menjadi sorotan setelah akun Threads, @mandharabarasika, menguraikan adanya warga negara Indonesia (WNI) yang ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia.

"Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis akun tersebut seperti dikutip Kesehatan Liputan6.com pada Selasa, 26 Mei 2026.

Kasus ini baru sekadar dugaan. Sementara itu, orang-orang yang terkait dengan dugaan pemalsuan ini belum memberikan pernyataan resmi. Begitu pun akun Instagram yang berkaitan sudah hilang dan tidak dapat ditemukan profilnya.

Terkait kasus ini, dokter sekaligus peneliti dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman memberi tanggapan. Menurutnya, penelitian palsu adalah hal yang sangat memprihatinkan.

"Kasus seperti ini tentu harus dilihat secara serius. Tentu kita juga harus objektif dan harus dipahami juga, bisa membedakan antara penggunaan AI secara etis sebagai alat bantu penelitian dengan fabrikasi penelitian, manipulasi data, ataupun pemalsuan identitas akademik," kata Dicky kepada Kesehatan Liputan6.com saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Bagi Dicky, tindakan seperti ini bukan hanya nakal secara akademik, tapi sudah masuk pelanggaran integritas ilmiah yang serius.

"Ini bukan sekadar nakal secara akademik, tapi sudah masuk pelanggaran serius integritas ilmiah berat atau scientific misconduct dan dalam dunia riset global, ini setara dengan pelanggaran etik profesional," ujar Dicky.

Bukan Hanya Nakal Secara Akademik

Dia juga menilai kejadian ini sebagai fenomena dari kombinasi masalah besar. Salah satunya komersialisasi dan industrialisasi prestise akademik.

Artinya, saat ini banyak orang melihat publikasi, konferensi internasional, travel grant, atau sertifikat pembicara sebagai status sosial, bukan lagi proses ilmiah.

"Sehingga muncul ghost writing, fake conferences, jurnal predator, manipulasi sitasi, sehingga ini yang menggiring orang menggunakan AI untuk menghasilkan manuskrip massal. AI sendiri sebetulnya netral, yang dipermasalahkan manusianya, oknumnya," ujarnya.

Dicky menjelaskan bahwa sebetulnya penggunaan AI masih diperbolehkan secara etis untuk membantu grammar, coding statistik, literature mapping, brainstorming, dan visualisasi data.

Namun, AI masuk dalam penipuan sains jika dipakai untuk membuat data palsu, responden fiktif, pemalsuan analisis, dan membuat penelitian yang sebetulnya tidak pernah dilakukan.